Fitur FaceTime memudahkan pengguna iPhone untuk melakukan panggilan video dengan kualitas tinggi. Namun, di balik kemudahan tersebut, penjahat siber mulai memanfaatkan FaceTime sebagai sarana untuk melancarkan aksi penipuan melalui teknik rekayasa sosial (social engineering).
Apple bersama Federal Trade Commission (FTC) mengingatkan pengguna agar tidak mudah percaya pada panggilan maupun pesan yang mengatasnamakan bank, perusahaan teknologi, atau institusi resmi. Pelaku biasanya berusaha membuat korban panik agar tanpa sadar memberikan akses ke informasi sensitif.
Bagaimana Modus Penipuan lewat FaceTime Bekerja?
Pelaku umumnya tidak langsung menghubungi korban melalui FaceTime. Mereka terlebih dahulu membangun kepercayaan melalui pesan singkat atau panggilan telepon sebelum mengajak korban beralih ke video call.
Beberapa tahapan yang sering digunakan, antara lain:
- Mengirim SMS yang mengklaim terdapat aktivitas mencurigakan pada rekening bank atau kartu kredit.
- Meminta korban menghubungi nomor telepon yang tertera dalam pesan.
- Mengaku sebagai petugas bank, layanan pelanggan, atau tim dukungan teknis.
- Mengajak korban melanjutkan percakapan melalui FaceTime agar proses “verifikasi” terlihat lebih meyakinkan.
- Meminta korban melakukan share screen selama proses berlangsung.
Dengan melihat layar korban secara langsung, pelaku dapat memperoleh berbagai informasi penting yang dapat digunakan untuk mengambil alih akun maupun menguras saldo rekening.
Baca Juga: Ada Malware Baru yang Bisa Hapus Data Permanen dari PC
Mengapa Share Screen Sangat Berbahaya?
Fitur berbagi layar sebenarnya dirancang untuk memudahkan kolaborasi. Namun, jika digunakan bersama orang yang tidak dikenal, fitur ini justru menjadi celah keamanan.
Risiko yang dapat terjadi saat korban melakukan share screen meliputi:
- Pelaku dapat melihat username dan password yang sedang diketik.
- Kode OTP atau kode verifikasi dapat terlihat secara langsung.
- Informasi rekening bank dan saldo dapat diketahui pelaku.
- Korban dapat diarahkan melakukan transfer uang tanpa menyadari bahwa transaksi tersebut menguntungkan pelaku.
- Data pribadi lainnya, seperti email dan informasi akun, ikut terekspos.
Karena itu, membagikan layar kepada pihak yang tidak dapat dipastikan identitasnya merupakan tindakan yang sangat berisiko.
Waspadai Modus Dukungan Teknis Palsu
Selain mengatasnamakan bank, pelaku juga kerap berpura-pura menjadi tim dukungan teknis dari perusahaan teknologi. Modus ini biasanya diawali dengan:
- SMS atau email yang menyebut perangkat mengalami masalah keamanan.
- Klaim bahwa akun korban sedang diretas atau terkena virus.
- Permintaan agar korban segera melakukan panggilan FaceTime.
- Instruksi untuk mengubah pengaturan perangkat sambil membagikan layar.
Saat korban mengikuti arahan tersebut, pelaku dapat mengamati setiap aktivitas yang dilakukan dan memanfaatkan informasi yang muncul di layar untuk mengambil alih akun.
Baca Juga: Waspada Malware ClickLock yang Serang Pengguna Mac
Ciri-Ciri Penipuan yang Perlu Diwaspadai
Sebagian besar penipuan digital memiliki pola yang hampir sama, yaitu memanfaatkan rasa panik dan terburu-buru agar korban tidak sempat berpikir kritis. Berikut beberapa tanda yang perlu diwaspadai:
- Mengaku berasal dari bank, Apple, atau lembaga resmi.
- Meminta password, PIN, OTP, atau kode verifikasi.
- Meminta korban segera mentransfer uang untuk alasan keamanan.
- Mendesak korban agar tidak menghubungi pihak lain.
- Mengarahkan korban melakukan video call dan berbagi layar.
Perlu diketahui bahwa bank maupun perusahaan teknologi resmi tidak akan meminta password, OTP, ataupun data sensitif melalui telepon maupun video call.
Cara Menghindari Penipuan lewat FaceTime
Untuk mengurangi risiko menjadi korban penipuan, pengguna perlu menerapkan kebiasaan digital yang lebih aman. Beberapa langkah yang dapat dilakukan, antara lain:
- Jangan mengangkat panggilan dari nomor yang tidak dikenal apabila terasa mencurigakan.
- Jangan pernah melakukan share screen dengan orang yang identitasnya belum dapat dipastikan.
- Jangan memberikan password, PIN, OTP, maupun kode keamanan kepada siapa pun.
- Jika menerima SMS yang mengatasnamakan bank, hubungi layanan pelanggan melalui nomor resmi yang tersedia di website atau aplikasi bank.
- Abaikan permintaan transfer dana yang dilakukan secara mendadak dengan alasan melindungi rekening.
- Laporkan panggilan mencurigakan kepada pihak terkait apabila diperlukan.




Tinggalkan Balasan