Harga
Login
Berlangganan
persiapan ancaman ai

AI Bawa Ancaman Baru, Keamanan Siber Harus Siapkan Ini

·

·

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat banyak pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien, termasuk dalam bidang keamanan siber. Namun, teknologi yang sama juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat serangan, seperti membuat phishing lebih meyakinkan, mencari celah keamanan, hingga membantu mengembangkan kode berbahaya.

Di sisi lain, AI juga dapat membantu organisasi mendeteksi aktivitas mencurigakan dan merespons ancaman dengan lebih cepat. Karena itu, tantangannya bukan sekadar menghindari AI, tetapi memastikan sistem keamanan siap menghadapi ancaman baru yang muncul seiring penggunaannya.

Lantas, apa saja yang perlu disiapkan perusahaan?

1. Terapkan Zero Trust

Cara perusahaan menjaga keamanan digital telah berubah. Karyawan bekerja dari berbagai lokasi, aplikasi tersebar di layanan cloud, perangkat IoT terhubung ke jaringan, dan pihak ketiga juga dapat mengakses sistem.

Kondisi ini membuat batas jaringan tradisional semakin sulit diandalkan. Pendekatan Zero Trust dapat membantu karena setiap akses harus diperiksa dan tidak langsung dipercaya.

Beberapa hal yang perlu diterapkan meliputi:

  • Memastikan identitas pengguna dan perangkat.
  • Membatasi hak akses sesuai kebutuhan.
  • Memantau aktivitas pengguna dan sistem.
  • Mengevaluasi konteks setiap permintaan akses.
Baca Juga: 3 Ancaman Siber Baru dari Penggunaan AI di Perusahaan

2. Batasi Akses AI terhadap Data

Tidak semua data perusahaan memiliki tingkat sensitivitas yang sama. Data publik tentu berbeda dengan data pelanggan, informasi keuangan, maupun kekayaan intelektual. Karena itu, AI sebaiknya hanya memperoleh data yang benar-benar diperlukan untuk menjalankan tugas tertentu.

Perusahaan dapat:

  • Mengelompokkan data berdasarkan tingkat sensitivitas.
  • Menerapkan prinsip least privilege.
  • Membatasi akses berdasarkan kebutuhan.
  • Mengenkripsi informasi penting.
  • Memantau penggunaan akses secara berkala.

3. Perkuat Identitas dan Pemantauan

Serangan siber dapat memanfaatkan akun yang berhasil diambil alih. Risiko ini semakin penting ketika semakin banyak sistem otomatis dan AI agent memiliki kemampuan bertindak atas nama organisasi.

Karena itu, pengelolaan identitas harus menjadi bagian dari strategi keamanan perusahaan. Hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

  • Menggunakan autentikasi yang kuat.
  • Meninjau dan mencabut akses yang tidak lagi diperlukan.
  • Mencatat aktivitas akun.
  • Memantau perilaku yang tidak normal.
  • Memprioritaskan kerentanan yang paling berisiko.

4. Siapkan Respons Insiden

Pencegahan saja tidak cukup karena tidak ada sistem yang sepenuhnya bebas dari risiko serangan. Perusahaan perlu memiliki rencana untuk mendeteksi, mengisolasi, dan memulihkan sistem ketika insiden terjadi.

Beberapa kemampuan yang perlu disiapkan, yaitu:

  • Mendeteksi ancaman sedini mungkin.
  • Mengisolasi perangkat atau akun yang terdampak.
  • Mencabut akses yang disalahgunakan.
  • Menyiapkan prosedur pemulihan sistem.
  • Melakukan evaluasi setelah insiden.

AI dapat membantu mengotomatisasi tindakan tertentu, tetapi keputusan dengan dampak besar tetap membutuhkan pengawasan manusia.

Baca Juga: Perusahaan Perlu Hadapi Risiko Keamanan AI dengan 6 Cara Ini

5. Pisahkan Sistem Berisiko Tinggi

Sistem yang berkaitan dengan keuangan, data pribadi, operasional, atau infrastruktur penting membutuhkan perlindungan lebih ketat. Segmentasi bisa membantu mencegah gangguan pada satu sistem menyebar ke lingkungan lain.

Perusahaan dapat:

  • Memisahkan jaringan berdasarkan fungsi.
  • Membatasi koneksi antarlingkungan.
  • Menggunakan gateway untuk akses tertentu.
  • Memberikan otorisasi tambahan pada tindakan berisiko tinggi.
  • Melakukan audit secara berkala.

Pendekatan ini semakin penting ketika AI mulai dihubungkan dengan sistem yang dapat menjalankan tindakan secara otomatis.

6. Mulai Bersiap Menghadapi Komputasi Kuantum

Selain AI, perkembangan komputasi kuantum juga perlu menjadi perhatian perusahaan. Teknologi ini berpotensi menimbulkan tantangan bagi sebagian sistem kriptografi yang digunakan untuk melindungi data dan komunikasi digital saat ini.

Salah satu risiko yang perlu diantisipasi adalah harvest now, decrypt later, yaitu ketika data terenkripsi dikumpulkan sekarang untuk kemudian berpotensi didekripsi ketika teknologi komputasi yang lebih kuat tersedia.

Karena itu, perusahaan perlu mulai memetakan penggunaan teknologi kriptografi dan mempersiapkan sistem untuk menghadapi perkembangan tersebut. Beberapa langkah yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Menginventarisasi penggunaan kriptografi pada sistem dan aplikasi.
  • Mengidentifikasi sistem yang berpotensi rentan.
  • Menentukan data yang membutuhkan perlindungan jangka panjang.
  • Menyiapkan rencana migrasi menuju Post Quantum Cryptography (PQC).

Persiapan tersebut juga dapat dimulai dari proses bisnis yang menggunakan dokumen dan tanda tangan digital. Vinotek menyediakan tanda tangan digital yang dilengkapi teknologi Post Quantum Cryptography (PQC) untuk membantu bisnis mempersiapkan keamanan dokumen digital menghadapi perkembangan ancaman komputasi di masa depan.

Dengan dukungan PQC, perusahaan dapat mulai mempertimbangkan aspek keamanan jangka panjang ketika melakukan digitalisasi proses penandatanganan dokumen. Butuh informasi lebih lanjut? Hubungi Vinotek melalui  WhatsApp 0822 4968 6626 atau email solution@vinotek.id.



Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Vinotek

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca