Penggunaan artificial intelligence (AI) di perusahaan terus berkembang. AI tidak lagi sekadar digunakan untuk eksperimen, tetapi mulai membantu analisis data, pengembangan aplikasi, operasional, hingga keamanan siber.
Di sisi lain, semakin luas penggunaan AI, semakin besar pula risiko keamanan yang perlu dihadapi. AI dapat masuk melalui platform resmi, aplikasi pihak ketiga, integrasi SaaS, maupun tools yang digunakan karyawan tanpa sepengetahuan perusahaan. Akibatnya, adopsi AI dapat berkembang lebih cepat daripada tata kelola yang mengawasinya.
Berdasarkan Sygnia CISO Survey 2026 terhadap 600 pemimpin IT dan keamanan secara global, hampir sepertiga responden telah menggunakan AI secara luas untuk threat detection dan incident response. Sebanyak 63% memperkirakan AI akan sepenuhnya terintegrasi dalam organisasi pada 2027. Namun, 73% responden menyatakan organisasinya belum sepenuhnya siap menghadapi serangan siber besar.
Karena itu, perusahaan perlu membangun pendekatan keamanan yang mengikuti perkembangan penggunaan AI. Berikut enam cara yang dapat diterapkan:
Baca Juga: Risiko Siber di Balik Kecanggihan AI yang Intai Perusahaan
1. Selaraskan Penggunaan AI dengan Tujuan Bisnis
Penggunaan AI perlu dimulai dengan tujuan yang jelas. Perusahaan harus mengetahui mengapa suatu teknologi AI digunakan, siapa yang bertanggung jawab, serta risiko yang dapat diterima. Dengan begitu, keputusan terkait AI tidak hanya didasarkan pada kebutuhan untuk bergerak cepat.
Beberapa hal yang perlu dilakukan perusahaan meliputi:
- Menentukan tujuan penggunaan AI.
- Menetapkan pihak yang bertanggung jawab.
- Melibatkan IT, security, legal, compliance, privacy, dan unit bisnis.
- Membuat proses persetujuan dan eskalasi yang jelas.
2. Bangun Tata Kelola AI
Setelah tujuan ditetapkan, perusahaan membutuhkan aturan yang menjadi pedoman bersama. Tata kelola membantu menentukan penggunaan AI yang diperbolehkan sekaligus memperjelas siapa yang bertanggung jawab ketika muncul risiko.
Hal-hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
- Menetapkan kebijakan penggunaan AI.
- Mengatur proses persetujuan tools dan aplikasi.
- Menentukan kepemilikan sistem dan risiko.
- Menyesuaikan tata kelola dengan regulasi dan kebutuhan compliance.
3. Terapkan Kontrol Keamanan
Kebijakan tidak akan efektif tanpa kontrol yang dapat diterapkan dalam sistem. Hal ini semakin penting ketika AI terhubung dengan data sensitif, aplikasi internal, atau sistem bisnis lainnya.
Kontrol keamanan dapat mencakup:
- Membatasi identity and access management sesuai kebutuhan.
- Melindungi data yang diproses AI.
- Menerapkan logging dan monitoring.
- Menetapkan standar keamanan untuk pengembangan dan deployment.
- Mengevaluasi keamanan vendor dan layanan AI pihak ketiga.
Baca Juga: Sebelum Adopsi AI, Pastikan 6 Hal Ini Sudah Siap di Perusahaan Anda
4. Tingkatkan Kesadaran Karyawan
Karyawan juga memiliki peran penting dalam menjaga keamanan AI. Penggunaan tools yang tidak disetujui atau memasukkan data sensitif ke layanan AI dapat menciptakan risiko yang sulit dikendalikan perusahaan.
Karena itu, perusahaan perlu memberikan edukasi mengenai:
- Tools AI yang diperbolehkan dan dilarang.
- Risiko memasukkan data sensitif ke layanan AI.
- Praktik secure AI development bagi developer.
- Prosedur pelaporan penyalahgunaan AI.
- Panduan penggunaan AI sesuai peran karyawan.
5. Uji Keamanan secara Berkala
Keamanan AI tidak berhenti setelah sistem diluncurkan. Model, fitur, integrasi, sumber data, dan hak akses dapat berubah sehingga profil risikonya ikut berubah.
Untuk memastikan kontrol tetap efektif, perusahaan dapat melakukan:
- AI security posture assessment.
- Penetration testing dan adversarial testing.
- Evaluasi vendor, model, dan integrasi pihak ketiga.
- Pemeriksaan data flow, akses, logging, dan monitoring.
- Reassessment ketika penggunaan AI mengalami perubahan.
6. Siapkan Incident Response untuk AI
Perusahaan juga perlu mempersiapkan respons khusus untuk insiden yang berkaitan dengan AI. Skenario seperti prompt injection, kompromi AI agent, dan kebocoran data melalui AI belum tentu tercakup dalam incident response plan konvensional.
Kesiapan tersebut dapat diperkuat dengan:
- Menambahkan skenario AI ke incident response plan.
- Menetapkan jalur eskalasi dan tanggung jawab.
- Menyiapkan prosedur untuk membatasi sistem yang terdampak.
- Memastikan kemampuan logging, monitoring, dan forensik tersedia.
- Melakukan tabletop exercise dengan skenario insiden AI.




Tinggalkan Balasan