Harga
Login
Berlangganan
ancaman penggunaan ai

3 Ancaman Siber Baru dari Penggunaan AI di Perusahaan

·

·

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di perusahaan semakin meluas. AI kini tidak hanya digunakan untuk membantu pekerjaan sederhana, tetapi juga terintegrasi dalam pemrograman, pengolahan data, hingga berbagai aktivitas yang melibatkan agen AI.

Di balik manfaat tersebut, penggunaan AI menghadirkan risiko keamanan siber baru. Ketika AI terhubung dengan data, browser, aplikasi, dan sistem perusahaan, teknologi ini dapat menjadi sasaran serangan maupun dimanfaatkan untuk menjalankan tindakan berbahaya.

Laporan Akamai dalam State of the Internet (SOTI): The Enterprise AI Usage Risk Report 2026 mengidentifikasi tiga metode serangan siber baru yang perlu diwaspadai, yaitu vibe hacking, CursorJacking, dan CometJacking. Berikut penjelasan selengkapnya.

Baca Juga: Gmail Punya Fitur Baru untuk Lindungi Privasi Pengguna

1. Vibe Hacking

Vibe hacking merupakan serangan yang memanfaatkan file instruksi di lingkungan kerja developer untuk memengaruhi perilaku asisten pemrograman AI.

Penyerang dapat memanipulasi file Markdown yang berisi instruksi lokal secara diam-diam. Perubahan tersebut dapat membuat AI mengikuti alur kerja yang tidak aman, menghasilkan kode berisiko, atau menjalankan tindakan yang tidak semestinya.

Beberapa risikonya meliputi:

  • Manipulasi instruksi yang dibaca AI.
  • Pembuatan kode yang tidak aman.
  • Pelaksanaan tindakan tanpa otorisasi.
  • Serangan yang sulit dikenali sebagai aktivitas berbahaya.

2. CursorJacking

CursorJacking memanfaatkan izin akses ekstensi browser yang terlalu luas. Serangan ini dapat menyasar asisten pemrograman AI seperti Cursor dan berpotensi mencuri informasi penting perusahaan.

Data yang menjadi target dapat berupa API key, basis kode, hingga riwayat percakapan. Akamai mencatat hampir 75% ekstensi AI meminta izin akses kritis, sementara 16,3% memiliki kerentanan yang telah diketahui atau tercatat sebagai CVE.

Perusahaan perlu memperhatikan:

  • Izin akses setiap ekstensi AI.
  • Keamanan ekstensi yang terpasang pada perangkat kerja.
  • Potensi pencurian API key dan basis kode.
  • Pembaruan ekstensi dan perangkat lunak secara berkala.
Baca Juga: AI Bikin Penipuan Email Bisnis Makin Canggih, Harus Apa?

3. CometJacking

CometJacking menggunakan teknik indirect prompt injection untuk memanipulasi agen AI melalui halaman web publik.

Penyerang dapat menyisipkan instruksi berbahaya ke halaman web. Ketika agen AI membaca halaman tersebut, instruksi dapat memengaruhi tindakan yang dilakukan agen tanpa disadari pengguna.

Jika memiliki akses tertentu, agen AI yang terpengaruh berpotensi melakukan tindakan seperti:

  • Mengirim file lokal.
  • Mengakses email.
  • Mengambil kredensial sesi.
  • Menjalankan perintah yang tidak diminta pengguna.

Cara Mengurangi Risiko Serangan AI

Ketiga ancaman tersebut menunjukkan bahwa keamanan AI tidak cukup hanya berfokus pada aplikasi atau model AI. Perusahaan juga perlu mengamankan lingkungan kerja, ekstensi, sumber informasi, serta hak akses agen AI.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:

  • Memeriksa dan membatasi izin ekstensi AI.
  • Mengidentifikasi layanan AI yang digunakan tanpa persetujuan.
  • Menerapkan single sign-on (SSO) untuk mengelola akses.
  • Memantau aktivitas prompt, unggahan dokumen, dan copy-paste.
  • Menerapkan prinsip least privilege pada agen AI.
  • Memantau aktivitas agen AI secara berkelanjutan.

Dengan tata kelola dan pengamanan yang tepat, perusahaan tetap dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas tanpa mengabaikan keamanan data dan aset digital.



Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Vinotek

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca