Harga
Login
Berlangganan
ssd

Website Bisa Lacak Aktivitas Pengguna lewat SSD, Seberapa Bahaya?

·

·

Perkembangan teknologi pelacakan digital terus menghadirkan tantangan baru bagi privasi pengguna internet. Jika selama ini pelacakan aktivitas online identik dengan cookie atau teknik fingerprinting browser, kini para peneliti menemukan metode baru yang memanfaatkan perangkat penyimpanan SSD (Solid-State Drive).

Metode tersebut memungkinkan sebuah website mendeteksi aktivitas yang sedang berlangsung di perangkat pengguna tanpa harus mengandalkan cookie maupun teknologi pelacakan konvensional. Temuan ini menunjukkan bahwa celah privasi tidak hanya berasal dari software, tetapi juga dapat muncul dari cara perangkat keras bekerja.

Apa Itu Metode FROST?

Tim peneliti dari Austria mengembangkan teknik yang disebut FROST (Fingerprinting Remotely Using OPFS-Based SSD Timing). Metode ini bekerja dengan mengamati perubahan latensi atau waktu respons SSD ketika berbagai aplikasi dan situs web mengakses penyimpanan secara bersamaan.

Setiap aplikasi yang berjalan di perangkat akan menghasilkan pola penggunaan SSD yang berbeda. Perbedaan pola tersebut menciptakan sinyal waktu yang sangat kecil, namun masih dapat diukur dan dianalisis.

Melalui analisis tersebut, peneliti dapat memperkirakan aplikasi atau situs web apa yang sedang aktif digunakan oleh pengguna tanpa perlu mengakses data secara langsung.

Baca Juga: AI Kini Jadi Debt Collector, Apa Dampaknya bagi Konsumen?

Bagaimana Cara Kerja Pelacakan Ini?

Teknik FROST memanfaatkan fitur browser bernama Origin Private File System (OPFS), yaitu ruang penyimpanan khusus yang dapat digunakan situs web untuk menyimpan data secara lokal. Melalui fitur ini, peneliti dapat mengamati perubahan latensi SSD dan mengolahnya menjadi petunjuk mengenai aktivitas yang sedang berlangsung di perangkat pengguna.

Secara umum, prosesnya berlangsung melalui beberapa tahapan berikut:

  • Membuat file berukuran besar
    Situs web membuat file berukuran besar di dalam OPFS dan melakukan proses pembacaan data secara berulang.
  • Mengukur waktu respons SSD
    Selama proses tersebut berlangsung, sistem akan mencatat perubahan waktu akses terhadap SSD.
  • Mendeteksi aktivitas lain
    Jika ada aplikasi atau tab browser lain yang juga menggunakan SSD pada saat bersamaan, waktu respons penyimpanan akan berubah dan menghasilkan pola tertentu.
  • Menganalisis pola dengan AI
    Peneliti menggunakan model kecerdasan buatan berbasis convolutional neural network (CNN) untuk mengenali pola latensi. Setelah dilatih, model tersebut mampu menghubungkan pola tertentu dengan aktivitas spesifik, seperti membuka aplikasi pesan instan atau mengakses situs web tertentu.

Mengapa Teknik Ini Perlu Diwaspadai?

Meski masih berada pada tahap penelitian, temuan ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap privasi digital terus berkembang. Perlindungan yang selama ini berfokus pada cookie dan pelacakan browser ternyata belum tentu mampu menutup semua celah yang ada.

Ada beberapa alasan mengapa metode FROST menarik perhatian para peneliti keamanan siber, di antaranya sebagai berikut:

  • Tidak bergantung pada cookie
    Pelacakan dapat dilakukan tanpa memanfaatkan cookie yang selama ini menjadi target utama berbagai fitur perlindungan privasi.
  • Berpotensi bekerja lintas browser
    Karena memanfaatkan perilaku SSD, metode ini tidak terlalu bergantung pada jenis browser yang digunakan pengguna.
  • Sulit disadari pengguna
    Aktivitas pengukuran latensi berlangsung di balik layar sehingga tidak mudah terdeteksi oleh pengguna biasa.
  • Membuka jalur kebocoran data baru
    Informasi dapat diperoleh dari perilaku perangkat keras, bukan hanya dari data yang secara sengaja dibagikan pengguna.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa semakin kompleks sebuah browser dan aplikasi web modern, semakin besar pula kemungkinan munculnya celah keamanan yang tidak terduga.

Apa Saja Keterbatasannya?

Walaupun terdengar mengkhawatirkan, teknik FROST masih memiliki sejumlah kendala yang membatasi penerapannya di dunia nyata. Karena itu, risiko yang ditimbulkan saat ini masih tergolong terbatas.

Beberapa keterbatasan metode tersebut, antara lain:

  • Membutuhkan file berukuran sangat besar
    Penelitian menunjukkan bahwa serangan memerlukan file berukuran minimal sekitar 1 GB untuk menghasilkan pengukuran yang efektif.
  • Berpotensi memicu peringatan penyimpanan
    Aktivitas pembuatan file besar dapat disadari pengguna atau memunculkan notifikasi kapasitas penyimpanan yang hampir penuh.
  • Hanya berlaku pada SSD yang sama
    Pelacakan hanya dapat dilakukan jika aplikasi target menggunakan SSD fisik yang sama dengan browser.
  • Baru diuji pada macOS dan Linux
    Penelitian saat ini belum membuktikan efektivitas metode tersebut pada sistem operasi Windows.
  • Belum ditemukan kasus penyalahgunaan nyata
    Hingga saat ini, belum ada laporan yang menunjukkan bahwa teknik FROST telah digunakan oleh pelaku kejahatan siber di luar lingkungan penelitian.
Baca Juga: Takut iPhone Dijambret? Apple Siapkan Stolen Device Protection

Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Meski belum menjadi ancaman nyata, para peneliti mendorong pengembang browser untuk mulai mengantisipasi potensi penyalahgunaan teknik serupa di masa depan.

Beberapa langkah yang direkomendasikan, antara lain:

  • Membatasi kapasitas penggunaan OPFS
    Pembatasan ini dapat mengurangi kemampuan situs web membuat file berukuran besar untuk melakukan pengukuran latensi SSD.
  • Memantau pola akses penyimpanan yang mencurigakan
    Browser dapat mendeteksi aktivitas baca-tulis yang tidak wajar dan memberikan perlindungan tambahan kepada pengguna.
  • Meningkatkan isolasi antara browser dan perangkat keras
    Pemisahan yang lebih baik dapat membantu mengurangi risiko kebocoran informasi melalui metode side-channel attack.
  • Mengembangkan mekanisme mitigasi baruVendor browser dapat menambahkan lapisan perlindungan yang secara khusus dirancang untuk mengatasi eksploitasi berbasis latensi perangkat keras.

Ancaman Privasi Digital Terus Berkembang

Penelitian FROST menjadi pengingat bahwa ancaman privasi digital tidak selalu berasal dari malware atau pencurian data secara langsung. Dalam beberapa kasus, informasi sensitif dapat diperoleh hanya dengan menganalisis perilaku sistem dan perangkat keras yang digunakan pengguna.

Meskipun masih berada pada tahap akademis dan belum ditemukan bukti penyalahgunaan di dunia nyata, temuan ini menunjukkan pentingnya pengembangan teknologi keamanan yang mampu mengikuti evolusi metode pelacakan digital. Seiring meningkatnya kemampuan aplikasi web modern, perlindungan terhadap privasi pengguna juga perlu terus diperbarui untuk menghadapi ancaman yang semakin kompleks.



Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Vinotek

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca