Harga
Login
Berlangganan
modus baru hacker

Modus Baru Hacker Incar Data Bisnis dan Keuangan

·

·

Ancaman siber terhadap dunia usaha terus berkembang. Jika sebelumnya hacker mengandalkan email phishing atau malware untuk mencuri data, kini muncul modus baru yang lebih berani. Pelaku bahkan rela datang langsung ke kantor korban dengan menyamar sebagai staf IT untuk mendapatkan akses ke komputer perusahaan.

Hal ini sudah terjadi di Amerika Serikat. Sebagaimana dilaporkan oleh tim keamanan siber Google dan FBI, kelompok peretas bernama Silent Ransom Group mulai menggunakan kombinasi rekayasa sosial dan akses fisik untuk mencuri berbagai data penting, termasuk dokumen bisnis, catatan keuangan, hingga data perpajakan perusahaan.

Data Bisnis dan Keuangan Jadi Target Utama

Dalam aksinya, para pelaku tidak hanya mencari informasi umum perusahaan. Mereka secara khusus mengincar data yang memiliki nilai tinggi dan dapat digunakan sebagai alat pemerasan.

Beberapa jenis data yang menjadi sasaran, antara lain:

  • Laporan keuangan perusahaan.
  • Dokumen perpajakan dan administrasi bisnis.
  • Kontrak kerja sama dengan mitra usaha.
  • Informasi pelanggan dan pemasok.
  • Data pribadi karyawan.
  • Dokumen internal yang bersifat rahasia.

Bagi perusahaan, kebocoran data tersebut dapat memicu kerugian finansial, gangguan operasional, hingga penurunan reputasi bisnis.

Baca Juga: Instagram Bisa Diretas lewat Chatbot AI, Pengguna Harus Apa?

Bagaimana Modus Ini Dilakukan?

Kelompok peretas memanfaatkan kepercayaan karyawan terhadap tim dukungan teknologi informasi.

Modus yang digunakan meliputi:

  • Menghubungi perusahaan dengan mengaku sebagai staf IT.
  • Mengirim email atau melakukan panggilan telepon yang terlihat meyakinkan.
  • Meminta karyawan mengikuti instruksi tertentu terkait sistem perusahaan.
  • Datang langsung ke kantor sebagai teknisi IT palsu.
  • Menghubungkan USB ke komputer korban.
  • Memasang aplikasi akses jarak jauh untuk mengambil data dari sistem perusahaan.

Pendekatan ini membuat pelaku lebih mudah melewati pengamanan yang biasanya berfokus pada ancaman digital.

Ancaman Tidak Lagi Berupa Ransomware Tradisional

Berbeda dengan ransomware konvensional yang mengenkripsi data dan meminta tebusan, kelompok ini lebih fokus mencuri informasi penting terlebih dahulu.

Setelah data berhasil diperoleh, pelaku akan:

  • Menghubungi korban dan meminta sejumlah uang.
  • Mengancam menyebarkan data ke publik.
  • Mengancam memberi tahu pelanggan, mitra bisnis, dan karyawan.
  • Mempublikasikan data yang dicuri jika korban menolak membayar.

Metode ini semakin banyak digunakan karena dapat memberikan tekanan besar kepada perusahaan tanpa harus merusak sistem secara langsung.

Mengapa Pelaku Mengincar Data Keuangan dan Pajak?

Data keuangan dan perpajakan memiliki nilai tinggi di tangan pelaku kejahatan siber karena dapat digunakan untuk berbagai tujuan.

Di antaranya:

  • Menekan perusahaan agar membayar tebusan.
  • Menjual informasi sensitif di pasar gelap digital.
  • Melakukan pencurian identitas.
  • Mengetahui kondisi keuangan perusahaan.
  • Memanfaatkan informasi bisnis untuk kepentingan pihak tertentu.

Karena itu, dokumen keuangan dan pajak kini menjadi aset digital yang harus mendapatkan perlindungan setara dengan aset fisik perusahaan.

Baca Juga: Cara Menghindari Modus Baru Penipuan QR Code

Langkah Pencegahan yang Perlu Dilakukan Perusahaan

Untuk mengurangi risiko serangan serupa, perusahaan perlu memperkuat keamanan tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga prosedur operasional.

Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:

  • Memastikan identitas setiap teknisi atau vendor yang datang ke kantor.
  • Melarang penggunaan perangkat USB yang tidak terverifikasi.
  • Memberikan pelatihan keamanan siber kepada seluruh karyawan.
  • Menggunakan autentikasi multi-faktor (MFA).
  • Membatasi akses data berdasarkan kebutuhan pekerjaan.
  • Melakukan audit keamanan sistem secara berkala.
  • Menyimpan dokumen keuangan dan perpajakan pada sistem yang terlindungi.

Keamanan Data Bisnis Harus Jadi Prioritas

Kasus yang diungkap Google dan FBI menunjukkan bahwa ancaman siber kini tidak hanya datang dari dunia digital. Pelaku mulai menggabungkan teknik peretasan dengan interaksi langsung untuk memperoleh akses ke data perusahaan.

Bagi pelaku usaha, menjaga keamanan data bisnis, keuangan, dan perpajakan menjadi semakin penting di tengah meningkatnya risiko kebocoran informasi. Perlindungan yang efektif tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesadaran karyawan dan prosedur keamanan yang diterapkan perusahaan.

Sebagai pengelola bisnis, penting untuk memastikan seluruh data keuangan dan perpajakan perusahaan tersimpan dengan aman serta hanya dapat diakses oleh pihak yang berwenang. Langkah ini dapat membantu meminimalkan risiko kerugian akibat serangan siber yang semakin kompleks.



Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Vinotek

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca