Serangan ransomware tidak lagi sekadar mengunci sistem perusahaan lalu meminta uang tebusan. Kini, pelaku kejahatan siber semakin sering menggunakan strategi pemerasan berlapis (multi-extortion), yaitu tetap menyimpan data korban meskipun uang tebusan sudah dibayarkan.
Faktanya, membayar uang tebusan bukanlah jaminan bahwa data perusahaan akan benar-benar aman atau dihapus. Justru, perusahaan berpotensi menjadi target pemerasan berikutnya karena dianggap bersedia memenuhi tuntutan pelaku.
Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi? Berikut penjelasannya.
Mengapa Membayar Uang Tebusan Tak Menjamin Masalah Selesai?
Banyak perusahaan berharap pembayaran uang tebusan dapat mengakhiri serangan siber. Namun dalam praktiknya, tidak ada jaminan bahwa pelaku akan memenuhi janjinya.
Beberapa alasan utamanya, antara lain:
- Pelaku tidak memiliki kewajiban untuk menghapus data setelah menerima pembayaran.
- Salinan data dapat disimpan di berbagai server atau dibagikan kepada kelompok kriminal lain.
- Data yang sudah dicuri bisa digunakan kembali untuk pemerasan di masa depan.
- Perusahaan yang pernah membayar sering dianggap sebagai target yang lebih mudah karena dinilai bersedia bernegosiasi.
Karena itu, banyak lembaga keamanan siber di berbagai negara terus mengimbau organisasi agar tidak menjadikan pembayaran tebusan sebagai solusi utama.
Baca Juga: AI Kini Jadi Senjata Hacker, Bagaimana Cara Menghadapinya?
Banyak Perusahaan Diperas Lagi setelah Membayar
Laporan terbaru dari perusahaan keamanan siber Proofpoint menunjukkan bahwa risiko pemerasan berulang bukan sekadar dugaan. Hasil survei terhadap 953 perusahaan itu menemukan bahwa:
- lebih dari sepertiga perusahaan yang membayar uang tebusan kembali menerima tuntutan pemerasan kedua;
- pola serangan ransomware kini berkembang menjadi pemerasan berulang dengan berbagai metode tekanan;
- pelaku memanfaatkan data hasil pencurian sebagai alat untuk terus mengancam korban.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara korban dan pelaku tidak berhenti setelah transaksi pertama selesai.
Modus Pemerasan Kini Berubah Jadi Multi-Extortion
Perkembangan ransomware beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan strategi para pelaku. Kini, mereka tidak hanya mengenkripsi sistem, tetapi juga:
- mencuri data penting perusahaan sebelum sistem dikunci;
- mengancam akan menyebarkan data ke publik;
- menjual data di forum gelap (dark web);
- meminta pembayaran tambahan agar data tidak dibocorkan.
Dengan kata lain, meskipun perusahaan berhasil memulihkan sistemnya, ancaman terhadap kerahasiaan data tetap dapat berlangsung.
Baca Juga: Marak Akun Pemerintah Palsu di Media Sosial, Ini Kata FBI
Pelajaran dari Kasus Nyata
Sejumlah kasus besar menunjukkan bahwa pembayaran uang tebusan tidak selalu menghentikan ancaman. Beberapa contohnya meliputi:
- Klue, perusahaan riset pasar, mengaku telah mencapai kesepakatan dengan pelaku yang mengklaim telah menghapus data. Namun kemudian diketahui sebagian data masih berhasil diperoleh kelompok peretas lain sehingga pelanggan tetap berisiko mengalami pemerasan.
- Change Healthcare pada 2024 membayar uang tebusan kepada lebih dari satu kelompok kriminal setelah data medis sekitar 192 juta warga Amerika Serikat dicuri. Kasus ini menunjukkan bahwa satu serangan dapat melibatkan beberapa kelompok pelaku dengan tuntutan berbeda.
- Dalam operasi penindakan terhadap kelompok ransomware LockBit, aparat penegak hukum Inggris menemukan bahwa data milik korban masih tersimpan di server pelaku meskipun korban telah membayar uang tebusan.
Kasus-kasus tersebut memperlihatkan bahwa janji pelaku untuk menghapus data sulit diverifikasi dan tidak dapat dijadikan dasar perlindungan bagi perusahaan.
Mengapa Perlindungan Data Lebih Penting daripada Bayar Tebusan?
Daripada bergantung pada janji pelaku kejahatan siber, perusahaan perlu membangun sistem perlindungan data sejak awal. Beberapa langkah yang dapat dilakukan, antara lain:
- menerapkan kontrol akses terhadap dokumen penting;
- menggunakan enkripsi pada data sensitif;
- melakukan pencadangan (backup) secara berkala;
- menerapkan autentikasi multifaktor (MFA);
- memastikan setiap dokumen penting memiliki perlindungan terhadap perubahan atau penyalahgunaan.
Semakin kuat sistem keamanan yang dimiliki perusahaan, semakin kecil peluang pelaku memanfaatkan data sebagai alat pemerasan.




Tinggalkan Balasan