Harga
Login
Berlangganan
4g dibajak

Celah 4G dan 5G Bisa Bikin Trafik Pengguna Dibajak

·

·

Jaringan 4G dan 5G menjadi bagian penting dalam aktivitas digital sehari-hari. Namun, penelitian dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura menemukan 84 celah keamanan pada sejumlah implementasi core network 4G dan 5G. Beberapa kerentanan bahkan bisa dimanfaatkan untuk mengganggu layanan hingga mengalihkan trafik internet pengguna ke server yang dikendalikan penyerang.

Temuan tersebut berasal dari penelitian berjudul Understanding Implicit Trust Errors in Core Carrier Networks through Multi-Agent Flaw Discovery and Analysis. Penelitian berfokus pada keamanan komunikasi antar-komponen dalam core network, yaitu bagian penting yang mengatur lalu lintas komunikasi pada jaringan seluler.

Celah 4G dan 5G Bisa Mengalihkan Trafik Pengguna

Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah kerentanan yang dapat menyebabkan session hijacking. Dalam kondisi tertentu, penyerang dapat memasukkan aturan jaringan tertentu sehingga trafik uplink pengguna diarahkan ke endpoint yang berada di bawah kendali mereka.

Sederhananya, pengguna mungkin tetap dapat menggunakan internet, tetapi trafiknya dapat melewati jalur yang telah dimanipulasi. Potensi dampaknya meliputi:

  • Mengalihkan trafik pengguna ke infrastruktur milik penyerang.
  • Mengamati trafik aplikasi yang tidak terenkripsi.
  • Melihat metadata seperti alamat IP tujuan, waktu komunikasi, dan volume trafik.
  • Memodifikasi paket tertentu yang tidak terlindungi enkripsi.
  • Membuang trafik sehingga koneksi pengguna tertentu terganggu.
Baca Juga: Waspada Wi-Fi Palsu, Data Pengguna Bisa Terancam!

Bagaimana Trafik Pengguna Bisa Dibajak?

Kerentanan tersebut berkaitan dengan protokol komunikasi yang digunakan komponen dalam core network. Salah satu contohnya ditemukan pada PFCP atau Packet Forwarding Control Protocol, yang digunakan untuk mengatur pemrosesan dan penerusan trafik.

Peneliti menemukan skenario ketika sistem menerima Packet Detection Rule (PDR) dengan ID yang sama tanpa melakukan pemeriksaan keunikan secara memadai. Penyerang kemudian dapat membuat aturan dengan prioritas lebih tinggi sehingga trafik korban diarahkan ke endpoint yang dikendalikan penyerang.

Secara umum, alurnya meliputi:

  • Penyerang mengirim pesan PFCP tertentu.
  • Pengguna memulai sesi komunikasi dengan jaringan.
  • Penyerang memasukkan aturan PDR menggunakan ID milik sesi korban.
  • Aturan tersebut diberi prioritas lebih tinggi.
  • Sistem menerima aturan tanpa validasi yang cukup.
  • Trafik uplink korban dapat dialihkan ke endpoint penyerang.

Peneliti menyebut paket yang berhasil dialihkan dapat diperiksa, diubah, diteruskan kembali, atau dibuang oleh penyerang.

Tidak Semua Pengguna 4G dan 5G Otomatis Terancam

Temuan tersebut tidak berarti seluruh pengguna 4G dan 5G dapat langsung menjadi korban. Eksploitasi membutuhkan kondisi tertentu agar penyerang dapat mengakses antarmuka core network yang rentan.

Peralihan menuju infrastruktur cloud-native menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Jika terjadi kesalahan konfigurasi, antarmuka yang seharusnya hanya dapat diakses secara internal berpotensi menjadi lebih mudah dijangkau.

Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko, antara lain:

  • Alamat IP komponen core network diketahui penyerang.
  • Antarmuka internal dapat diakses dari luar jaringan.
  • Terdapat kesalahan konfigurasi pada lingkungan cloud.
  • Komponen terlalu mempercayai pesan dari komponen lain.
  • Validasi pesan dan parameter protokol tidak dilakukan secara ketat.
Baca Juga: Windows Kena Serangan Zero-Day, Segera Lakukan Ini!

Peneliti Temukan 84 Kerentanan pada Sistem 4G dan 5G

Peneliti menggunakan iFinder, sistem multi-agent yang dibantu large language model (LLM), untuk menemukan pola kerentanan yang disebut implicit trust errors atau iTrue.

Pengujian dilakukan pada tujuh implementasi core network berbasis open source, termasuk Open5GS, OpenAirInterface, free5GC, SD-Core, dan eUPF. Hasilnya, ditemukan 84 kerentanan baru, dengan 83 telah dikonfirmasi dan 81 telah mendapatkan nomor CVE.

Peneliti juga menemukan bahwa sebagian kelemahan pada sistem 5G memiliki kemiripan dengan kerentanan pada sistem 4G. Hal ini menunjukkan bahwa migrasi ke teknologi generasi baru tidak otomatis menghilangkan risiko keamanan dari sistem sebelumnya.

Cara Mengurangi Risiko Pembajakan Trafik

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya keamanan yang tidak hanya mengandalkan batas jaringan. Komponen internal tetap perlu memvalidasi pesan yang diterimanya dan tidak menganggap semua sumber internal otomatis aman.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:

  • Membatasi akses ke antarmuka core network.
  • Memperkuat segmentasi antara jaringan internal dan eksternal.
  • Memeriksa konfigurasi cloud secara berkala.
  • Memvalidasi pesan dan parameter protokol.
  • Memantau CVE serta menerapkan patch keamanan.
  • Melakukan pengujian keamanan secara berkala.

Dengan pendekatan tersebut, risiko penyalahgunaan celah pada jaringan 4G dan 5G dapat diminimalkan, terutama ketika infrastruktur jaringan semakin terhubung dengan lingkungan cloud dan sistem digital lainnya.



Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Vinotek

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca