Pixel tracker banyak digunakan situs dan aplikasi untuk memahami aktivitas pengunjung, mengukur efektivitas kampanye, hingga memperbaiki layanan. Namun, teknologi ini juga dapat menimbulkan risiko keamanan apabila dikonfigurasi secara tidak tepat.
Risiko tersebut terlihat dalam kasus Klaviyo. Perusahaan teknologi pemasaran ini diketahui secara tidak sengaja membagikan informasi pendaftaran pengguna kepada sejumlah perusahaan teknologi dan pengiklan. Data yang berpotensi terekspos bahkan mencakup alamat email dan password.
Baca Juga: AI Bikin Penipuan Email Bisnis Makin Canggih, Harus Apa?
Apa Itu Pixel Tracker?
Pixel tracker merupakan teknologi yang digunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai aktivitas pengguna di situs atau aplikasi. Teknologi ini umumnya bekerja di balik layar dan digunakan untuk kebutuhan analitik maupun pemasaran.
Keberadaan pixel tracker sebenarnya tidak otomatis berbahaya. Masalah dapat muncul ketika pelacak pihak ketiga memperoleh akses terhadap informasi yang dimasukkan pengguna ke dalam halaman.
Beberapa fungsi pixel tracker, antara lain:
- Mengukur aktivitas pengunjung di situs.
- Menilai efektivitas kampanye pemasaran.
- Memahami perilaku pengguna.
- Membantu mengidentifikasi masalah pada situs.
- Mengumpulkan data untuk kebutuhan analitik.
Bagaimana Pixel Tracker Bisa Membocorkan Data?
Risiko terjadi ketika konfigurasi pelacak memungkinkan informasi dari formulir atau halaman tertentu ikut diteruskan kepada pihak ketiga.
Sebagai contoh, pengguna memasukkan email, nomor telepon, nama perusahaan, dan password saat membuat akun. Jika pelacak pada halaman tersebut tidak dibatasi dengan tepat, informasi tersebut dapat berpotensi ikut terkirim ke layanan pihak ketiga.
Pengguna mungkin mengira informasi hanya diberikan kepada situs yang sedang digunakan. Padahal, terdapat berbagai layanan yang bekerja di balik halaman tersebut.
Risikonya meliputi:
- Informasi formulir ikut terbaca sistem pihak ketiga.
- Data pribadi diteruskan tanpa disadari pengguna.
- Informasi sensitif masuk ke sistem yang tidak membutuhkannya.
- Data dapat digunakan di luar konteks awal pengumpulan.
Baca Juga: Celah Screen Sharing Mac Bisa Jalankan Kode dari Jauh
Kasus Klaviyo Jadi Contoh Risikonya
Peneliti keamanan Sam Jadali dari Melurna menemukan kesalahan konfigurasi pada formulir pendaftaran Klaviyo. Menurut penelitian tersebut, masalah setidaknya berlangsung sejak Februari 2024 hingga November 2025.
Pengguna yang mendaftar melalui formulir terdampak berpotensi membagikan informasi kepada perusahaan yang memiliki tracker di situs Klaviyo. Data tersebut mencakup:
- Alamat email dan password.
- Nama dan situs perusahaan.
- Nomor telepon.
Sejumlah perusahaan yang disebut dalam temuan tersebut antara lain Facebook, Google, HubSpot, Microsoft, LinkedIn, dan X.
Klaviyo mengonfirmasi masalah tersebut berkaitan dengan kesalahan konfigurasi aplikasi dan menyatakan telah memperbaikinya. Berdasarkan log yang tersedia, perusahaan mengatakan kurang dari 200 individu diketahui terdampak dan mereka telah diberi pemberitahuan.
Perusahaan Perlu Mengontrol Aliran Data
Kasus ini menunjukkan bahwa paparan data tidak selalu terjadi akibat peretasan. Kesalahan konfigurasi pada komponen yang terhubung ke situs juga dapat membuat informasi pengguna keluar dari lingkungan yang seharusnya.
Karena itu, perusahaan perlu mengetahui bagaimana data bergerak di setiap sistem, termasuk layanan pihak ketiga, tracker, dan API. Langkah yang dapat dilakukan, antara lain:
- Membatasi data yang dapat diakses pihak ketiga.
- Melakukan audit tracker secara berkala.
- Memastikan data sensitif tidak terkirim ke sistem pemasaran.
- Memetakan aliran data pengguna.
- Menguji konfigurasi setelah perubahan sistem.
Pixel tracker bukan teknologi yang otomatis berbahaya. Namun, akses yang terlalu luas atau konfigurasi yang keliru dapat menjadikannya celah paparan data. Kasus Klaviyo menjadi pengingat bahwa keamanan informasi perlu diperhatikan sejak data dikumpulkan hingga diproses oleh berbagai sistem digital.




Tinggalkan Balasan