Harga
Login
Berlangganan
data chatgpt dicuri

Tanpa Klik Apa Pun, Data ChatGPT Bisa Dicuri lewat Cara Ini

·

·

Penggunaan ChatGPT semakin melekat dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari mencari informasi hingga membantu menyelesaikan pekerjaan. Namun, di balik kemudahannya, platform kecerdasan buatan (AI) ini ternyata masih memiliki risiko keamanan yang dapat mengancam privasi pengguna.

Pada 5 November 2026, peneliti keamanan siber dari Check Point mengungkap kerentanan yang memungkinkan penyerang mencuri isi percakapan ChatGPT tanpa interaksi langsung dari pengguna. Celah ini berkaitan dengan fitur Lockdown Mode, yang dirancang OpenAI untuk mengurangi risiko kebocoran data akibat serangan prompt injection.

Berawal dari Celah pada Fitur Pratinjau HTML

Peneliti menemukan kelemahan pada mekanisme pratinjau HTML di dalam blok kode ChatGPT. Fitur ini memungkinkan konten HTML ditampilkan langsung di aplikasi, tetapi ditempatkan dalam lingkungan sandbox untuk membatasi akses terhadap data aplikasi dan sumber eksternal.

Namun, mekanisme pengelolaan jendela pop-up ternyata memiliki celah. Penyerang dapat memanfaatkan struktur nested frame atau bingkai bertingkat untuk mengakses fungsi pop-up yang tidak lagi mengikuti pembatasan keamanan pada pratinjau HTML awal.

Akibatnya, perlindungan Lockdown Mode dapat dilewati dan membuka peluang pencurian data percakapan.

Bagaimana Percakapan ChatGPT Bisa Dicuri Tanpa Klik?

Setelah berhasil melewati pembatasan keamanan, penyerang dapat memanfaatkan jalur tersebut untuk mengirimkan data percakapan ke server yang mereka kendalikan. Serangan ini dapat dilakukan melalui beberapa cara, seperti:

  • Prompt berbahaya: Menyisipkan instruksi yang telah dimanipulasi untuk memicu aktivitas tertentu.
  • GPT khusus: Memanfaatkan GPT yang telah dirancang untuk menjalankan konten berbahaya.
  • Percakapan bersama: Menyebarkan percakapan ChatGPT yang mengandung konten berbahaya kepada pengguna lain.

Teknik ini termasuk zero-click data exfiltration, yaitu pencurian data tanpa memerlukan interaksi langsung dari korban. Selain mengambil percakapan, penyerang juga dapat menampilkan pop-up palsu yang menyerupai pemberitahuan resmi ChatGPT untuk mengelabui pengguna agar mengunduh malware.

Risiko Keamanan AI Tidak Hanya Mengancam ChatGPT

Temuan Check Point bukan satu-satunya penelitian yang mengungkap kelemahan keamanan pada platform AI. Sebelumnya, peneliti Parameter Labs juga menemukan celah yang memungkinkan penyerang memanfaatkan tautan percakapan ChatGPT untuk menjalankan konten HTML berbahaya dan mengakses sesi pengguna yang telah terautentikasi.

Berbagai penelitian lain turut menunjukkan bahwa serangan prompt injection, pencurian kredensial, dan penyalahgunaan akses AI agent dapat mengancam informasi sensitif.

Risiko tersebut semakin besar ketika AI terhubung dengan aplikasi, dokumen, dan layanan perusahaan. Jika akses tidak dikelola dengan baik, informasi internal hingga data pelanggan berpotensi disalahgunakan.

Cara Melindungi Data saat Menggunakan AI

Meskipun OpenAI telah memperbaiki kerentanan yang dilaporkan Check Point pada 18 September 2026, pengguna tetap perlu menerapkan langkah perlindungan tambahan, seperti:

  • Menghindari memasukkan kata sandi, kredensial, dan dokumen rahasia ke layanan AI.
  • Memeriksa sumber GPT khusus dan tautan percakapan sebelum mengaksesnya.
  • Membatasi izin aplikasi yang terhubung dengan AI.
  • Mengaktifkan autentikasi multifaktor untuk melindungi akun.
  • Memperbarui aplikasi secara berkala.
  • Menerapkan kebijakan penggunaan AI untuk mengatur pengelolaan informasi sensitif.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa keamanan AI tidak hanya bergantung pada model yang digunakan, tetapi juga pada fitur dan lingkungan aplikasi yang mendukungnya. Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan setiap teknologi yang digunakan memiliki pengelolaan akses dan perlindungan data yang memadai.



Tinggalkan Balasan