One-Time Password (OTP) selama ini menjadi salah satu metode yang umum digunakan untuk mengamankan akun dan transaksi digital. Pengguna biasanya menerima kode melalui SMS, kemudian memasukkannya ke aplikasi atau situs yang sedang diakses.
Namun, meningkatnya kasus penipuan online membuat metode ini menghadapi tantangan. Masalahnya bukan selalu karena sistem OTP berhasil diretas, melainkan karena pelaku scam dapat memanipulasi pengguna agar memberikan kode tersebut secara sukarela.
Kondisi ini mendorong industri telekomunikasi mengembangkan metode autentikasi yang tidak terlalu bergantung pada interaksi pengguna. Salah satunya adalah Silent Number Verification, yang memungkinkan nomor telepon diverifikasi tanpa pengguna harus menerima dan memasukkan kode OTP.
Mengapa OTP Makin Rawan Scam?
OTP dirancang sebagai lapisan keamanan tambahan. Kode yang dikirim ke nomor pengguna seharusnya hanya diketahui pemilik akun. Namun, pelaku dapat menggunakan social engineering dengan menyamar sebagai bank, marketplace, atau layanan pelanggan untuk mendapatkan kode tersebut.
Risiko ini semakin relevan seiring meningkatnya penipuan digital. Laporan Mobile Economy Asia Pacific 2026 mencatat konsumen ASEAN yang melaporkan pernah menjadi korban penipuan meningkat dari 31% pada 2024 menjadi 45% pada 2025.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Lebih dari 90% scam yang dikutip GSMA berkaitan dengan social engineering.
- OTP menjadi target karena pengguna perlu melihat dan memasukkan kode secara manual.
- Pelaku dapat memanfaatkan rasa takut atau panik korban untuk mendapatkan kode.
- Sistem yang aman perlu mempertimbangkan faktor manusia, bukan hanya serangan teknis.
Baca Juga: 3 Cara Membedakan OTP Asli dan Palsu agar Terhindari dari Modus Fake BTS
Silent Number Verification Jadi Alternatif OTP
Silent Number Verification memungkinkan sistem memverifikasi nomor telepon secara otomatis di belakang layar. Berbeda dengan SMS OTP, pengguna tidak perlu menerima kode kemudian mengetikkannya secara manual.
Metode ini memanfaatkan sinyal jaringan untuk membantu proses autentikasi. Dengan begitu, tidak ada kode yang perlu diberitahukan kepada pihak lain sehingga salah satu celah dalam social engineering dapat dikurangi.
Perbedaannya dengan SMS OTP, antara lain:
- SMS OTP: pengguna menerima dan memasukkan kode.
- Silent Number Verification: verifikasi dilakukan di belakang layar.
- SMS OTP: kode dapat menjadi target penipuan.
- Silent Number Verification: pengguna tidak perlu mengetahui kode autentikasi.
- SMS OTP: proses membutuhkan interaksi pengguna.
- Silent Number Verification: proses dapat berlangsung lebih praktis dan minim interaksi.
Bagaimana Teknologi Ini Mengurangi Risiko Scam?
Pelaku scam sering membutuhkan informasi autentikasi untuk meyakinkan korban atau mengambil alih akun. Pada SMS OTP, kode yang terlihat oleh pengguna dapat dimanfaatkan dalam modus tersebut.
Silent Number Verification mengurangi ketergantungan pada kode karena autentikasi berlangsung tanpa pengguna harus menyampaikan informasi tersebut. Beberapa manfaatnya meliputi:
- Mengurangi risiko kode autentikasi dicuri.
- Meminimalkan peluang social engineering melalui permintaan OTP.
- Mempercepat proses verifikasi.
- Mengurangi langkah yang harus dilakukan pengguna.
- Meningkatkan pengalaman saat mengakses layanan digital.
Meski begitu, teknologi ini bukan berarti dapat menggantikan seluruh lapisan keamanan. Metode autentikasi tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat risiko suatu layanan.
Baca Juga: Microsoft Peringatkan Password dan OTP SMS Tak Lagi Aman, Ini Alternatifnya
Apakah SMS OTP Akan Ditinggalkan?
Kemunculan Silent Number Verification tidak berarti SMS OTP langsung hilang. SMS OTP masih dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu, termasuk sebagai metode autentikasi alternatif.
Namun, penggunaan autentikasi berbasis jaringan berpotensi semakin meningkat untuk aktivitas yang membutuhkan keamanan lebih tinggi. Menurut GSMA, sejumlah regulator di beberapa negara kawasan juga mulai membatasi penggunaan SMS OTP untuk jenis transaksi tertentu, termasuk sebagian transaksi perbankan.
Beberapa perkembangan yang perlu diperhatikan:
- SMS OTP masih memiliki fungsi untuk kebutuhan tertentu.
- Autentikasi berbasis jaringan mulai dikembangkan sebagai alternatif.
- Metode autentikasi dapat disesuaikan dengan tingkat risiko.
- Industri mulai mendorong verifikasi yang minim interaksi pengguna.
Silent Number Verification dan GSMA Open Gateway
Silent Number Verification merupakan salah satu teknologi yang didorong melalui GSMA Open Gateway. Inisiatif ini memungkinkan kemampuan jaringan operator seluler digunakan melalui API untuk mendukung berbagai layanan digital.
Selain autentikasi nomor, API tersebut juga dapat menyediakan sinyal jaringan yang membantu mendeteksi potensi fraud dan scam.
Kemampuan yang dikembangkan, antara lain:
- Verifikasi nomor telepon.
- Sinyal jaringan untuk membantu mendeteksi fraud.
- Deteksi potensi scam.
- Integrasi kemampuan jaringan dengan layanan digital.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa jaringan telekomunikasi mulai berperan lebih besar dalam meningkatkan keamanan layanan digital.




Tinggalkan Balasan