Bekerja sama dengan KOL kini menjadi salah satu cara brand menjangkau audiens dengan lebih dekat. Alih-alih menyampaikan promosi secara langsung, brand dapat menitipkan pesan kepada seseorang yang sudah dipercaya dan diikuti oleh komunitasnya.
Namun, ada satu hal yang sering luput diperhatikan yaitu ketika sebuah konten promosi menimbulkan masalah, apakah seluruh tanggung jawab berada di tangan KOL? Tidak selalu.
Dari sisi brand, kerja sama dengan KOL bukan sekadar soal memilih figur yang memiliki banyak followers. Brand juga perlu memperhatikan pesan apa yang disampaikan, klaim apa yang digunakan, dan bagaimana konten tersebut dipublikasikan kepada konsumen.
Brand Tetap Perlu Memastikan Klaimnya
Misalnya, sebuah brand meminta KOL mempromosikan produknya dengan mengatakan bahwa produk tersebut “paling aman”, “100% tanpa risiko”, atau memiliki manfaat tertentu. Jika klaim tersebut tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan, jumlah followers KOL tidak akan menghilangkan risiko dari pesan tersebut.
UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengatur hak konsumen untuk memperoleh informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi serta jaminan barang atau jasa. Karena itu, brand perlu memastikan informasi yang diberikan kepada KOL memang akurat dan tidak berpotensi menyesatkan konsumen.
Brief Bukan Sekadar Panduan Konten
Bagi brand, brief KOL seharusnya tidak hanya berisi caption, key message, hashtag, atau deadline. Brief juga dapat menjadi cara untuk mengontrol informasi yang boleh dan tidak boleh disampaikan. Semakin spesifik produknya, semakin penting bagi brand untuk memberikan batasan yang jelas. Misalnya, klaim yang boleh digunakan, informasi yang wajib disebutkan, hingga pernyataan yang sebaiknya tidak dibuat oleh KOL.
Hal ini juga membantu ketika KOL menggunakan gaya komunikasinya sendiri. Kreativitas tetap diperlukan agar konten terasa natural, tetapi pesan utamanya tetap berada dalam koridor yang sudah disepakati.
Apakah Konten KOL Perlu Disetujui Brand?
Idealnya, brand memiliki proses review sebelum konten dipublikasikan, terutama jika materi promosi mengandung klaim produk, harga, promo, atau informasi yang berpotensi memengaruhi keputusan konsumen. Proses approval bukan berarti brand harus menghilangkan gaya personal KOL. Justru, review dapat menjadi titik temu antara kreativitas KOL dan tanggung jawab brand.
Brand juga sebaiknya menyimpan versi brief, materi yang disetujui, serta komunikasi terkait perubahan konten. Dokumentasi tersebut dapat membantu perusahaan menunjukkan bagaimana sebuah materi promosi dibuat dan disetujui apabila suatu saat terjadi pertanyaan atau sengketa.
Transparansi Juga Penting
Konsumen berhak mengetahui ketika sebuah konten dibuat dalam konteks kerja sama komersial. Karena itu, brand dan KOL perlu memperhatikan transparansi dalam menyampaikan hubungan komersial tersebut, termasuk mengikuti ketentuan platform dan aturan periklanan yang relevan.
Pada akhirnya, menggunakan KOL bukan berarti brand menyerahkan seluruh tanggung jawab komunikasi kepada influencer. Brand tetap perlu memastikan bahwa pesan yang dibawa oleh KOL tidak menyesatkan, dapat dipertanggungjawabkan, dan sesuai dengan informasi produk yang sebenarnya.
Kerja sama KOL yang baik bukan hanya menghasilkan konten yang ramai, tetapi juga membangun kepercayaan. Karena itu, semakin banyak pihak yang terlibat dalam sebuah kampanye, semakin penting pula bagi brand untuk memiliki proses persetujuan dan dokumentasi yang rapi. Dengan pengelolaan dokumen secara digital, setiap brief, revisi, dan persetujuan dapat tersimpan lebih terstruktur sehingga proses kerja sama tidak hanya lebih praktis, tetapi juga lebih mudah ditelusuri ketika dibutuhkan.
FAQ Seputar Kerja Sama KOL
1. Apakah brand bertanggung jawab atas konten yang dibuat KOL?
Brand tetap perlu memperhatikan konten yang dipublikasikan sebagai bagian dari kerja sama, terutama jika pesan atau klaim berasal dari arahan brand. Karena itu, proses brief dan review penting untuk meminimalkan risiko.
2. Mengapa brand perlu melakukan review konten KOL?
Review membantu memastikan informasi produk, klaim, harga, promo, dan pesan yang disampaikan sesuai dengan informasi yang benar dan tidak berpotensi menyesatkan konsumen.
3. Apakah KOL boleh mengubah brief dari brand?
KOL tetap dapat menggunakan gaya komunikasi dan kreativitasnya sendiri. Namun, perubahan yang menyangkut klaim, informasi produk, atau pesan utama sebaiknya dikonfirmasi kembali kepada brand.
4. Apakah kerja sama dengan KOL harus transparan kepada konsumen?
Ya. Hubungan komersial antara brand dan KOL sebaiknya disampaikan secara transparan agar audiens memahami bahwa konten tersebut merupakan bagian dari kerja sama promosi.
5. Apa yang sebaiknya disimpan brand setelah kampanye KOL selesai?
Brand sebaiknya menyimpan brief, materi konten, revisi, dan bukti persetujuan atau approval. Dokumentasi tersebut dapat membantu menelusuri proses pembuatan konten apabila diperlukan di kemudian hari.
Kerja sama dengan KOL bukan hanya tentang menghasilkan konten yang menarik, tetapi juga memastikan setiap pesan yang dibawa brand dapat dipertanggungjawabkan. Dengan pengelolaan dokumen dan persetujuan yang lebih terstruktur, proses brief, revisi, hingga approval konten dapat dilakukan dengan lebih rapi.
Ingin tahu bagaimana solusi digital Vinotek dapat membantu perusahaan mengelola dokumen dan persetujuan secara lebih praktis? Ikuti Instagram @vinotek.official untuk mendapatkan insight seputar digitalisasi dokumen dan keamanan bisnis.




Tinggalkan Balasan