Ancaman terhadap sistem digital terus berkembang seiring semakin banyaknya perusahaan yang mengandalkan aplikasi, jaringan, cloud, dan aset digital. Di sisi lain, jumlah kerentanan keamanan yang perlu diperiksa juga semakin meningkat.
Perusahaan tidak cukup hanya mengetahui bahwa sistem memiliki celah. Tim keamanan juga perlu memastikan apakah celah tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan dan sejauh mana dampaknya. Salah satu pendekatan yang mulai berkembang untuk menjawab kebutuhan ini adalah agentic pentesting.
Baca Juga: Di Balik Kecanggihan AI Agent, Waspadai Risiko Siber Ini
Apa Itu Agentic Pentesting?
Agentic pentesting adalah metode penetration testing yang menggunakan agen berbasis AI untuk menjalankan berbagai tahapan pengujian keamanan secara lebih otomatis. Teknologi ini dapat mencari celah, mencoba mengeksploitasinya secara terkendali, hingga menemukan jalur serangan menuju aset penting.
Berbeda dari pemindaian kerentanan biasa, agentic pentesting berusaha memberikan bukti apakah suatu celah benar-benar dapat dimanfaatkan. Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan meliputi:
- Mencari potensi celah keamanan.
- Memetakan sistem yang dapat dijangkau.
- Menguji eksploitasi secara terkendali.
- Mencari peningkatan hak akses (privilege escalation).
- Menguji perpindahan antar sistem (lateral movement).
- Menemukan attack path menuju aset penting.
- Melakukan pengujian ulang setelah perbaikan.
Bagaimana Cara Kerjanya?
Agentic pentesting menjalankan pengujian secara bertahap. Ketika menemukan titik masuk, agen AI dapat menentukan langkah berikutnya berdasarkan hasil pengujian sebelumnya.
Proses ini memungkinkan pengujian menyerupai cara penyerang mencari jalan masuk ke lingkungan digital, tetapi dilakukan dalam ruang lingkup dan kondisi yang telah ditentukan.
Secara umum, prosesnya mencakup:
- Identifikasi: mencari aset dan titik masuk potensial.
- Eksploitasi: menguji apakah celah dapat dimanfaatkan.
- Enumerasi: memetakan informasi dan sistem yang dapat diakses.
- Pencarian jalur: menguji kemungkinan peningkatan akses atau perpindahan sistem.
- Pembuktian: melihat apakah jalur tersebut dapat mencapai aset penting.
Baca Juga: Waspada Portal AI Palsu, Modus Baru Curi Password & Kode MFA
Mengapa Agentic Pentesting Dibutuhkan?
Jumlah kerentanan dan kecepatan eksploitasi terus meningkat. Sumber yang menjadi acuan mencatat 35.364 CVE ditemukan pada paruh pertama 2026, sementara rata-rata waktu dari pengungkapan kerentanan hingga eksploitasi turun menjadi sekitar 8 jam.
Kondisi ini membuat pengujian keamanan perlu dilakukan lebih cepat dan berdasarkan bukti nyata.
Manfaat agentic pentesting, antara lain:
- Membuktikan apakah kerentanan benar-benar dapat dieksploitasi.
- Menunjukkan jalur serangan menuju aset penting.
- Mengotomatisasi sebagian proses pengujian.
- Membantu menentukan prioritas perbaikan.
- Memungkinkan pengujian ulang setelah perbaikan.
Apa Batasan Agentic Pentesting?
Agentic pentesting bukan berarti seluruh sistem dapat diuji melalui eksploitasi langsung. Beberapa aset mungkin terlalu kritis atau memiliki pembatasan akses sehingga pengujian langsung berisiko mengganggu operasional.
Selain itu, tidak semua kerentanan memiliki exploit yang dapat digunakan.
Beberapa keterbatasannya meliputi:
- Sistem produksi yang sangat kritis.
- Jaringan yang terisolasi atau air-gapped.
- Aset dengan pembatasan akses tertentu.
- Kerentanan yang belum memiliki exploit.
- Lingkungan berskala besar yang membutuhkan waktu untuk diuji.
Karena itu, agentic pentesting sebaiknya menjadi bagian dari strategi keamanan yang lebih luas. Perusahaan dapat menggabungkannya dengan exploitability validation dan security control validation untuk mendapatkan gambaran keamanan yang lebih menyeluruh.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak hanya mengetahui keberadaan celah, tetapi juga dapat memahami apakah celah tersebut dapat dimanfaatkan, bagaimana jalur serangannya, dan apakah langkah perbaikan yang dilakukan sudah efektif.




Tinggalkan Balasan