Harga
Login
Berlangganan
lims pegasus

LIMS dan Pegasus Sama-Sama Menyadap, Apa Bedanya?

·

·

Dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh sepanjang 2025–2026 kembali menyoroti teknologi pengawasan komunikasi digital. Salah satu teknologi yang menjadi perhatian adalah Lawful Interception Management System (LIMS), yang disebut berbeda dengan spyware Pegasus.

Keduanya sama-sama dapat digunakan untuk mengakses informasi komunikasi seseorang. Namun, LIMS dan Pegasus memiliki cara kerja, titik akses, serta kemampuan yang berbeda. Lantas, apa perbedaan keduanya?

LIMS Menyadap Komunikasi melalui Jaringan Operator

Lawful Interception Management System (LIMS) merupakan platform yang menghubungkan kebutuhan intersepsi aparat penegak hukum dengan infrastruktur operator telekomunikasi.

Sistem ini meneruskan instruksi intersepsi ke jaringan operator untuk menyalin komunikasi target ke pusat pemantauan pihak berwenang. Informasi yang dapat diperoleh meliputi:

  • Isi komunikasi, seperti percakapan telepon, bergantung pada jenis layanan dan perlindungan enkripsi.
  • Nomor telepon pihak yang berkomunikasi dengan target.
  • Waktu dan durasi komunikasi.
  • Pola komunikasi antarpengguna.

Namun, LIMS tidak otomatis dapat membaca seluruh komunikasi digital. Pesan yang dilindungi enkripsi end-to-end, misalnya, tidak serta-merta dapat dibaca melalui intersepsi jaringan operator.

Pegasus Menyadap dengan Menyusup ke Perangkat

Berbeda dengan LIMS, Pegasus merupakan spyware yang bekerja dengan menginfeksi perangkat target. Dikembangkan oleh NSO Group, spyware ini dikenal memiliki kemampuan mengakses informasi langsung dari perangkat yang berhasil disusupi.

Informasi yang berpotensi diakses Pegasus, antara lain:

  • Pesan dan informasi komunikasi.
  • Kontak dan data pribadi.
  • Foto, video, serta dokumen.
  • Mikrofon dan kamera perangkat.
  • Informasi lokasi dan aktivitas digital.

Karena bekerja langsung dari dalam perangkat, Pegasus berpotensi mengakses informasi yang tersedia di perangkat meskipun komunikasi menggunakan enkripsi end-to-end.

Perbedaan LIMS dan Pegasus

Meskipun sama-sama berkaitan dengan teknologi penyadapan, LIMS dan Pegasus memiliki cara kerja dan kemampuan yang berbeda. LIMS mengakses komunikasi melalui infrastruktur operator telekomunikasi, sedangkan Pegasus menyusup langsung ke perangkat target.

Berikut perbedaan LIMS dan Pegasus berdasarkan beberapa aspek utama:

Aspek PerbandinganLIMSPegasus
Jenis teknologiSistem pengelolaan intersepsi komunikasiSpyware
Cara kerjaMengintersepsi komunikasi melalui jaringan operatorMenginfeksi perangkat target
Titik aksesInfrastruktur operator telekomunikasiSistem dan data dalam perangkat
Informasi yang diaksesIsi komunikasi tertentu dan metadataPesan, kontak, dokumen, lokasi, serta aktivitas perangkat
KetergantunganInfrastruktur jaringan operatorKeberhasilan infeksi perangkat
Batas kemampuanDipengaruhi jenis layanan dan enkripsi komunikasiBergantung pada akses dan kemampuan infeksi perangkat

Dari tabel tersebut, terlihat bahwa perbedaan utama LIMS dan Pegasus terletak pada metode serta sumber informasi yang diakses. LIMS bekerja melalui jaringan telekomunikasi, sementara Pegasus memperoleh akses langsung dari perangkat yang berhasil disusupi. Karena itu, keduanya tidak dapat dianggap sebagai teknologi penyadapan yang sama.

Risiko Penyalahgunaan Teknologi Penyadapan

Teknologi penyadapan dapat mendukung penegakan hukum, tetapi berisiko disalahgunakan apabila tidak disertai pengawasan yang memadai.

Dalam kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo, Bareskrim Polri pada 3 November 2026 menyebut sejumlah nomor telepon diduga dimasukkan ke server LIMS tanpa verifikasi dan tanpa dasar penyelidikan atau penyidikan yang sah.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya tata kelola dan pengendalian akses. Beberapa risiko yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Penyalahgunaan hak akses oleh pihak yang berwenang.
  • Pelanggaran privasi akibat akses komunikasi tanpa izin.
  • Lemahnya proses verifikasi target intersepsi.
  • Ancaman dari orang dalam atau insider threat.
  • Minimnya audit dan pengawasan aktivitas sistem.

Untuk mengurangi risiko keamanan digital, pengguna perlu memperbarui sistem operasi, menggunakan aplikasi resmi, membatasi izin aplikasi, serta mengaktifkan autentikasi multifaktor. Sementara itu, organisasi perlu menerapkan kontrol akses, pencatatan aktivitas, dan audit keamanan secara berkala.



Tinggalkan Balasan