Perkembangan kecerdasan buatan (AI) bukan hanya mengubah cara kerja perusahaan, tetapi juga mulai memengaruhi struktur organisasi di dalamnya. Sejumlah perusahaan teknologi besar diketahui kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar, sementara posisi manajemen menengah menjadi salah satu yang paling terdampak.
Fenomena ini disebut sebagai “The Great Flattening”, yaitu kondisi ketika struktur perusahaan menjadi lebih sederhana dengan lebih sedikit lapisan jabatan.
AI Dinilai Mempercepat Penyederhanaan Struktur Organisasi
Dalam artikel Forbes yang ditulis Joe McKendrick, konsep organisasi berbentuk piramida disebut perlahan berubah menjadi lebih “datar”. Sebelumnya, perusahaan umumnya memiliki banyak jenjang mulai dari staf, supervisor, manajer, direktur, hingga eksekutif.
Kini, dengan bantuan AI, satu pemimpin tim dinilai mampu menangani lebih banyak karyawan sekaligus. Beberapa perubahan yang mulai terlihat, antara lain:
- Jumlah lapisan manajemen mulai dikurangi
- Span of control atau jumlah bawahan per pemimpin meningkat
- Proses pengambilan keputusan dibuat lebih cepat
- Koordinasi kerja semakin bergantung pada teknologi AI
Shaun Warman menyebut rata-rata span of control meningkat dari 8,1 orang pada 2013 menjadi 12,1 orang pada 2025, dan diperkirakan bisa mencapai sekitar 25 orang pada 2028.
Baca Juga: Komdigi Kaji Aturan Platform Digital Wajib Berkantor di RI
Konsep Organisasi “Datar” Sebenarnya Bukan Hal Baru
Meski saat ini ramai dikaitkan dengan AI, konsep penyederhanaan struktur organisasi sebenarnya sudah muncul sejak lama.
Pada era 1980-an, banyak perusahaan mulai mempertanyakan efektivitas struktur hierarki yang terlalu panjang. Perkembangan internet dan media sosial kemudian membuat hubungan antara atasan dan karyawan menjadi lebih terbuka dan fleksibel.
Beberapa ciri organisasi yang lebih datar, di antaranya:
- Komunikasi lebih langsung antar level jabatan
- Pengambilan keputusan lebih cepat
- Birokrasi perusahaan lebih pendek
- Kolaborasi antar tim lebih fleksibel
AI saat ini dianggap hanya mempercepat perubahan yang memang sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Middle Management Jadi Posisi yang Paling Tertekan
Salah satu dampak terbesar dari tren ini adalah berkurangnya kebutuhan terhadap middle management atau manajemen menengah.
Survei Korn Ferry 2025 menunjukkan bahwa:
- 41% perusahaan telah memangkas lapisan manajemen
- 37% karyawan merasa kehilangan arahan kerja akibat berkurangnya manajer
- 43% responden menilai pimpinan perusahaan kurang selaras dalam pengambilan keputusan
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski struktur organisasi lebih ramping dianggap efisien, perusahaan tetap membutuhkan sosok yang mampu mengarahkan tim secara langsung.
Baca Juga: Open Source Populer Diretas, Password Pengguna Jadi Incaran
Risiko Jangka Panjang bagi Perusahaan
Penyederhanaan organisasi juga dinilai dapat memunculkan persoalan baru dalam jangka panjang. Salah satunya adalah berkurangnya jalur pembentukan calon pemimpin perusahaan.
Posisi manajer selama ini menjadi tahap penting bagi karyawan untuk belajar:
- Mengelola tim
- Mengambil keputusan
- Menyelesaikan konflik kerja
- Menjalankan strategi bisnis
Jika posisi tersebut terus dikurangi, perusahaan berisiko kekurangan calon pemimpin senior di masa depan.
Selain itu, eksekutif senior juga bisa mengalami peningkatan beban kerja karena harus menangani lebih banyak persoalan operasional yang sebelumnya ditangani manajer menengah.
AI Belum Bisa Sepenuhnya Menggantikan Peran Pemimpin
Meski AI mampu membantu efisiensi kerja dan mempercepat koordinasi, teknologi ini dinilai belum sepenuhnya mampu menggantikan fungsi kepemimpinan manusia.
Perusahaan tetap membutuhkan pemimpin yang mampu:
- Memberikan arahan kerja
- Menjaga komunikasi tim
- Membantu pengambilan keputusan
- Memahami kondisi karyawan secara langsung
Karena itu, penggunaan AI dalam organisasi kemungkinan besar akan lebih berperan sebagai alat pendukung kerja, bukan pengganti penuh peran manajemen manusia.




Tinggalkan Balasan