Harga Repositori Verifikasi PDF
Login
Berlangganan
deepfake video call

Video Call Kini Jadi Target Baru Deepfake, Harus Apa?

·

·

Teknologi kecerdasan buatan (AI) membawa banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik berbagai manfaatnya, AI juga menghadirkan tantangan baru dalam dunia keamanan digital. Salah satunya adalah kemunculan teknologi deepfake yang kini semakin canggih dan sulit dibedakan dari rekaman asli.

Jika sebelumnya email, pesan singkat, atau panggilan telepon menjadi media favorit pelaku penipuan, kini video call mulai menjadi target baru. Dengan bantuan AI, pelaku dapat memalsukan wajah dan suara seseorang secara real-time untuk meyakinkan korban.

Kondisi ini membuat video call yang selama ini dianggap sebagai sarana verifikasi identitas tidak lagi sepenuhnya aman.Lalu, apa yang perlu dilakukan untuk menghadapi ancaman tersebut?

Mengapa Video Call Jadi Sasaran Deepfake?

Video call selama ini dianggap sebagai cara paling efektif untuk memastikan identitas seseorang. Banyak orang merasa lebih percaya ketika dapat melihat wajah dan mendengar suara lawan bicara secara langsung.

Namun, perkembangan teknologi deepfake membuat kepercayaan tersebut mulai dipertanyakan karena:

  • AI kini mampu meniru wajah seseorang dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi.
  • Teknologi cloning voice dapat menghasilkan suara yang hampir identik dengan suara asli.
  • Deepfake dapat digunakan secara real-time saat panggilan video berlangsung.
  • Korban cenderung lebih mudah percaya karena merasa sedang berinteraksi langsung dengan orang yang dikenal.

Akibatnya, pelaku kejahatan memiliki cara baru untuk meyakinkan korban tanpa harus meretas sistem atau mencuri akun terlebih dahulu.

Baca Juga: Website Bisa Lacak Aktivitas Pengguna lewat SSD, Seberapa Bahaya?

Ancaman Deepfake Sudah Terjadi di Dunia Nyata

Banyak orang masih menganggap deepfake sebagai teknologi yang hanya digunakan untuk membuat konten hiburan. Padahal, sejumlah kasus menunjukkan bahwa teknologi ini sudah dimanfaatkan untuk melakukan penipuan.

Beberapa risiko yang dapat muncul akibat deepfake dalam video call, antara lain:

  • Penipuan transfer dana atas nama pimpinan perusahaan.
  • Permintaan akses ke sistem internal organisasi.
  • Pencurian informasi rahasia atau data pelanggan.
  • Manipulasi identitas dalam proses bisnis maupun hukum.
  • Penyebaran informasi palsu yang tampak meyakinkan.

Kasus yang dialami perusahaan konsultan global Arup menjadi salah satu contoh bagaimana identitas digital palsu dapat dimanfaatkan untuk membangun kepercayaan korban dan menjalankan aksi penipuan.

Jangan Langsung Percaya pada Video Call

Di era deepfake, melihat wajah dan mendengar suara seseorang tidak lagi cukup untuk memastikan identitasnya. Karena itu, penting untuk menerapkan prinsip verifikasi berlapis, terutama ketika menerima permintaan yang bersifat sensitif.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan meliputi:

  • Memastikan identitas melalui saluran komunikasi lain.
  • Menghubungi nomor telepon resmi yang sudah tersimpan sebelumnya.
  • Meminta konfirmasi melalui email perusahaan.
  • Menanyakan informasi yang hanya diketahui oleh pihak terkait.
  • Menunda pengambilan keputusan apabila terdapat hal yang terasa janggal.

Langkah sederhana tersebut dapat membantu mencegah kerugian yang lebih besar.

Kenali Tanda-Tanda Deepfake saat Video Call

Meski teknologi deepfake terus berkembang, beberapa tanda masih dapat dikenali jika pengguna memperhatikan dengan cermat.

Beberapa indikasi yang patut diwaspadai, antara lain:

  • Gerakan bibir yang tidak sepenuhnya sinkron dengan suara.
  • Ekspresi wajah yang terlihat kurang natural.
  • Perubahan kualitas suara secara tiba-tiba.
  • Gerakan kepala atau mata yang tampak tidak wajar.
  • Kualitas gambar yang sesekali mengalami distorsi.

Memang tidak semua deepfake memiliki ciri-ciri tersebut, tetapi mengenal tanda-tandanya dapat meningkatkan kewaspadaan saat melakukan panggilan video.

Baca Juga: Registrasi Nomor HP Pakai Wajah, Siapa yang Bayar Biaya Rp3.000?

Teknologi Deteksi Deepfake Mulai Dikembangkan

Untuk menghadapi ancaman yang semakin kompleks, berbagai perusahaan teknologi kini mengembangkan sistem deteksi deepfake secara real-time.

Teknologi ini bekerja dengan cara:

  • Menganalisis pola wajah dan suara selama panggilan berlangsung.
  • Mendeteksi indikasi manipulasi digital.
  • Memberikan peringatan ketika ditemukan aktivitas mencurigakan.
  • Membantu pengguna melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan.

Meski belum mampu memberikan hasil yang sempurna, teknologi deteksi dapat menjadi lapisan keamanan tambahan yang penting.

On-Device Detection Dinilai Lebih Aman

Salah satu pendekatan yang mulai mendapat perhatian adalah on-device detection atau deteksi langsung di perangkat pengguna.

Metode ini menawarkan beberapa keuntungan, seperti:

  • Data wajah dan suara tidak perlu dikirim ke server eksternal.
  • Risiko kebocoran data biometrik menjadi lebih kecil.
  • Proses analisis dapat berlangsung lebih cepat.
  • Privasi pengguna lebih terjaga.
  • Ketergantungan pada layanan pihak ketiga dapat dikurangi.

Karena alasan tersebut, banyak pakar keamanan siber menilai bahwa on-device detection berpotensi menjadi salah satu standar keamanan video call di masa depan.

Verifikasi Berlapis Jadi Kunci Keamanan

Kemampuan AI menghasilkan wajah dan suara palsu membuat pengguna perlu mengubah cara memverifikasi identitas seseorang.

Beberapa kebiasaan yang sebaiknya mulai diterapkan adalah:

  • Tidak mengambil keputusan penting hanya berdasarkan video call.
  • Selalu melakukan konfirmasi melalui kanal komunikasi lain.
  • Memastikan permintaan yang diterima sesuai prosedur perusahaan.
  • Meningkatkan kesadaran terhadap risiko deepfake.
  • Memanfaatkan teknologi keamanan yang tersedia.

Pada akhirnya, video call tetap menjadi sarana komunikasi yang efektif. Namun, di tengah pesatnya perkembangan AI, pengguna perlu lebih waspada dan tidak hanya mengandalkan apa yang terlihat di layar untuk menentukan keaslian seseorang.



Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Vinotek

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca