Federal Bureau of Investigation (FBI) mengingatkan bahwa lansia kini menjadi salah satu target utama penipuan siber. Data dari FBI Internet Crime Complaint Center menunjukkan bahwa sepanjang 2025 terdapat lebih dari 200 ribu laporan kejahatan siber dari korban berusia di atas 60 tahun.
Jumlah tersebut meningkat sekitar 37% dibanding kantahun sebelumnya, dengan total kerugian mencapai USD 7,7 miliar. Menurut FBI, ada beberapa faktor yang membuat lansia lebih sering menjadi sasaran pelaku kejahatan digital, yaitu:
- Memiliki simpanan dana atau aset yang relatif lebih besar.
- Cenderung lebih mudah mempercayai orang lain dibanding generasi muda.
- Sebagian lansia merasa kesepian sehingga lebih terbuka berkomunikasi dengan orang asing.
- Tidak semua lansia memahami perkembangan modus penipuan digital terbaru.
- Pelaku memanfaatkan rasa panik atau empati korban agar lebih mudah ditipu.
Agen Khusus FBI Rebecca Keithley juga menyebut bahwa lansia lebih rentan merespons telepon, pesan singkat, maupun email dari pihak yang tidak dikenal.
Baca Juga: Modus Telepon Palsu Catut Nama Bank Makin Marak, Android Kini Bisa Blokir Otomatis
Modus Penipuan Siber yang Sering Menargetkan Lansia
FBI mengungkap beberapa modus penipuan yang paling sering digunakan untuk menipu korban lanjut usia, antara lain:
- Pelaku mengaku sebagai anggota keluarga yang sedang mengalami keadaan darurat dan membutuhkan uang secepatnya.
- Penipu berpura-pura menjadi teknisi atau layanan bantuan teknologi yang menawarkan perbaikan masalah komputer palsu.
- Modus hubungan asmara online untuk membangun kedekatan emosional sebelum menguras rekening korban.
- Penggalangan dana atau donasi palsu yang mengatasnamakan organisasi amal tertentu.
- Pesan atau telepon palsu yang meminta data pribadi dan informasi rekening bank.
- Aplikasi palsu yang diam-diam mencuri data dan akses keuangan korban.
Modus tersebut biasanya dilakukan melalui telepon, media sosial, email, hingga aplikasi pesan instan.
Tanda-Tanda Penipuan Digital yang Harus Diwaspadai
FBI meminta masyarakat untuk lebih waspada jika menemukan ciri-ciri berikut:
- Pelaku meminta korban merahasiakan percakapan atau transaksi.
- Ada unsur mendesak agar korban segera mengirim uang.
- Pelaku meminta transfer dana ke rekening tertentu.
- Pembayaran diminta menggunakan gift card atau voucher digital.
- Pengirim mengaku sebagai pihak resmi tetapi menggunakan nomor tidak dikenal.
- Korban diminta memberikan OTP, PIN, atau password akun pribadi.
- Terdapat tautan mencurigakan yang meminta korban login atau mengisi data pribadi.
Jika menemukan tanda-tanda tersebut, masyarakat disarankan untuk tidak langsung merespons sebelum melakukan verifikasi.
Baca Juga: Apple Siapkan Fitur AI Lebih Pintar di iOS 27, Privasi Pengguna Tetap Aman?
Tips Menghindari Penipuan Siber Menurut FBI
Agar tidak menjadi korban kejahatan digital, FBI membagikan beberapa langkah pencegahan berikut:
- Jangan mudah merespons telepon, email, atau pesan dari pihak yang tidak dikenal.
- Hindari membagikan data pribadi maupun informasi perbankan secara sembarangan.
- Verifikasi terlebih dahulu jika ada anggota keluarga yang tiba-tiba meminta uang.
- Jangan mengklik tautan mencurigakan yang dikirim melalui pesan singkat atau email.
- Gunakan password yang kuat dan aktifkan autentikasi dua langkah jika tersedia.
- Diskusikan dengan keluarga atau orang terpercaya sebelum melakukan transfer dana dalam jumlah besar.
- Segera laporkan jika menemukan aktivitas mencurigakan pada akun digital atau rekening bank.
FBI menegaskan bahwa semakin lama korban berkomunikasi dengan penipu, semakin besar kemungkinan pelaku berhasil menjalankan aksinya. Karena itu, edukasi digital bagi lansia dan pendampingan dari keluarga menjadi langkah penting untuk mencegah kejahatan siber.




Tinggalkan Balasan