Kecerdasan buatan (AI) semakin banyak digunakan perusahaan di berbagai sektor. Mulai dari otomasi pekerjaan, analisis data, layanan pelanggan, hingga strategi bisnis kini mulai mengandalkan teknologi berbasis AI.
Perusahaan-perusahaan besar dunia bahkan terus meningkatkan investasi mereka untuk mempercepat transformasi AI. Namun di balik perkembangan tersebut, muncul satu persoalan yang justru dianggap lebih besar dibanding teknologinya sendiri.
Tantangan terbesar perusahaan di era AI ternyata bukan soal teknologi, melainkan kesiapan para pemimpinnya.
Hal ini diungkapkan Farrah Lakhani, eksekutif strategi dan transformasi AI yang saat ini menjabat sebagai Managing Director Strategy, Planning & Operations di Uber, dalam sebuah artikel di Forbes. Menurutnya, banyak perusahaan sudah memiliki akses terhadap teknologi AI, tetapi belum memiliki kepemimpinan yang siap mengelolanya.
Banyak Pemimpin Belum Siap Hadapi Era AI
Farrah menilai, sebagian besar jajaran pimpinan perusahaan atau C-suite masih belum benar-benar siap memimpin transformasi berbasis AI.
Beberapa tantangan yang saat ini banyak dihadapi perusahaan, antara lain:
- Pemimpin belum memiliki pemahaman cukup tentang cara kerja AI.
- Strategi AI perusahaan belum terintegrasi secara menyeluruh.
- Banyak perusahaan sudah berinvestasi di AI, tetapi belum siap dari sisi sumber daya manusia.
- Pengambilan keputusan masih terlalu bergantung pada tim teknologi.
Temuan tersebut juga didukung berbagai riset global. Laporan LHH C-Suite 2026 menyebut AI menjadi kesenjangan keterampilan terbesar di level eksekutif saat ini.
Sementara studi Gartner menemukan hanya 27% eksekutif yang memiliki strategi AI komprehensif. Bahkan hanya sekitar 20% yang merasa tenaga kerja di perusahaan mereka benar-benar siap menghadapi era AI.
Baca Juga: AI Ternyata Bisa Hambat Karier di Dunia Kerja!
AI Fluency Jadi Keterampilan Penting
Menurut Farrah, pemimpin perusahaan tidak harus menjadi programmer atau ahli teknis AI. Namun mereka perlu memiliki AI fluency atau pemahaman dasar tentang cara kerja, potensi, serta risiko penggunaan AI dalam bisnis.
AI fluency dinilai penting karena dapat membantu pemimpin perusahaan:
- Memahami kapan AI bisa digunakan secara efektif.
- Menilai apakah hasil kerja AI dapat dipercaya.
- Mengambil keputusan bisnis dengan lebih tepat.
- Mengurangi risiko kesalahan penggunaan AI.
- Berkomunikasi lebih efektif dengan tim teknologi.
Sebagai contoh, Chief Marketing Officer (CMO) perlu memahami apakah analisis pelanggan yang dihasilkan AI benar-benar akurat. Sementara Chief Financial Officer (CFO) harus mampu mengevaluasi prediksi keuangan berbasis AI sebelum digunakan dalam strategi perusahaan.
Perusahaan Mulai Punya “Tenaga Kerja Digital”
Perubahan lain yang mulai muncul adalah penggunaan AI agent di lingkungan kerja. AI agent merupakan sistem AI yang dapat menjalankan tugas secara otomatis, seperti menjawab pelanggan, membuat analisis, hingga membantu proses pengambilan keputusan.
Riset Salesforce menunjukkan sekitar 72% CEO percaya mayoritas karyawan nantinya akan memiliki AI agent yang membantu pekerjaan mereka dalam lima tahun ke depan.
Penggunaan AI agent membuat perusahaan mulai menghadapi tantangan baru, seperti:
- Menentukan siapa yang bertanggung jawab atas keputusan AI.
- Memastikan hasil kerja AI tetap akurat dan aman.
- Mengawasi proses kerja AI agar sesuai aturan perusahaan.
- Menyeimbangkan kolaborasi antara manusia dan AI.
- Menyusun sistem evaluasi terhadap penggunaan AI di tempat kerja.
Menurut Farrah, banyak perusahaan saat ini belum memiliki sistem pengawasan yang jelas terkait penggunaan AI agent. Padahal AI kini mulai menjadi bagian penting dari operasional bisnis.
Baca Juga: Hindari Spyware, Aktifkan Fitur Ini di iPhone dan Android
Regenerasi Pemimpin Jadi Tantangan Baru
Selain kesiapan pemimpin saat ini, perusahaan juga menghadapi tantangan dalam menyiapkan generasi pemimpin berikutnya. Banyak calon eksekutif saat ini dibesarkan dalam sistem kerja sebelum AI berkembang pesat.
Cara mereka mengambil keputusan dan memandang bisnis terbentuk di era yang berbeda dengan kondisi sekarang. Karena itu, perusahaan dinilai perlu mulai mengubah sistem pengembangan kepemimpinan agar lebih relevan dengan era AI.
Beberapa hal yang perlu mulai disiapkan perusahaan, antara lain:
- Program pelatihan AI untuk level manajemen dan eksekutif.
- Sistem pengembangan pemimpin yang lebih adaptif terhadap teknologi.
- Evaluasi kepemimpinan berbasis kemampuan memahami AI.
- Regenerasi talenta yang mampu bekerja berdampingan dengan AI.
- Budaya kerja yang lebih terbuka terhadap transformasi digital.
Farrah menekankan bahwa AI fluency harus menjadi kompetensi inti dalam proses evaluasi dan pengembangan pemimpin perusahaan, bukan hanya dianggap sebagai kemampuan tambahan.
Pemimpin Era AI Harus Lebih Adaptif
Farrah menyebut ada beberapa karakter yang akan dibutuhkan pemimpin perusahaan di era AI.
Karakter tersebut, di antaranya:
- Mampu mengambil keputusan cepat di tengah perubahan teknologi.
- Memahami batas antara otomatisasi dan penilaian manusia.
- Mampu mengelola kombinasi tenaga kerja manusia dan AI.
- Fokus pada hasil nyata dari implementasi AI.
- Adaptif terhadap perubahan model bisnis dan operasional.
Menurutnya, perusahaan yang lebih cepat membangun kepemimpinan berbasis AI akan memiliki keunggulan kompetitif lebih kuat di masa depan.
“Perusahaan yang mulai membangun kemampuan ini dari sekarang akan lebih siap menghadapi perubahan bisnis yang semakin cepat akibat perkembangan AI,” tutup Farrah.




Tinggalkan Balasan