Seiring meningkatnya transaksi dan kegiatan secara elektronik, electronic Know Your Customer (e-KYC) mulai menggantikan KYC konvensional. E-KYC mulai diterapkan karena memudahkan pengguna untuk melakukan pendaftaran dan verifikasi secara daring tanpa adanya proses tatap muka langsung (face to face). Pada artikel kali ini akan dibahas mengenai konsep e-KYC bekerja, apa manfaat dan tantangannya, serta bagaimana proses ini dapat diterapkan di berbagai sektor.
Apa itu e-KYC?
Pada mulanya, KYC digunakan dalam industri keuangan sebagai cara untuk mengurangi risiko usaha dengan melaksanakan prinsip kehati-hatian. Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/10/PBI/2001 tentang Penerapan Prinsip mengenal Nasabah (KYC Principles) menjadi salah satu aturan untuk menerapkan prinsip kehati-hatian tersebut.
KYC adalah proses identifikasi dan verifikasi pengguna untuk memenuhi persyaratan regulasi. Fungsi dari KYC sendiri adalah untuk memantau kegiatan transaksi termasuk pelaporan transaksi yang mencurigakan dengan identitas pengguna yang telah diketahui sebelumnya. Proses KYC konvensional melibatkan verifikasi dokumen identitas secara langsung, seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau berkas lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun, proses ini memakan waktu dan biaya bagi pengguna sehingga electronic KYC (e-KYC) perlahan mulai digunakan untuk menggantikan KYC konvensional.
E-KYC adalah proses verifikasi identitas pengguna dalam format elektronik tanpa melalui proses tatap muka secara langsung. Tahapan dari proses e-KYC adalah pengisian formulir identitas, pengunggahan dokumen identitas (KTP, NPWP, dan dokumen lain), liveness detection dan verifikasi biometrik (wajah). E-KYC telah menjadi alat penting yang tidak dapat dipisahkan bagi berbagai sektor, khususnya sektor keuangan. E-KYC menghilangkan kebutuhan untuk verifikasi dokumen secara fisik sehingga mengurangi waktu dan biaya dari proses verifikasi tanpa mengurangi keamanan yang sudah ada.
Tahapan e-KYC
Saat ini, untuk tahapan atau urutan pada e-KYC, ditentukan oleh masing-masing lembaga atau perusahaan yang menerapkan teknologi tersebut. Namun, pada dasarnya e-KYC saat ini diimplementasikan dengan dua tahapan utama, yakni tahapan Optical Character Recognition (OCR) dan Liveness Detection. Dua teknologi ini digunakan dalam pengenalan tulisan dan wajah. OCR adalah teknologi yang memiliki kemampuan untuk membaca tulisan yang tercetak dan mengubahnya menjadi format digital. Sementara, Liveness Detection adalah teknologi yang digunakan untuk memastikan bahwa pengguna yang mengajukan permintaan autentikasi adalah pengguna yang sebenarnya.
Dalam dunia digital yang saat ini terus berkembang, teknologi OCR digunakan dalam berbagai aplikasi, seperti aplikasi keuangan (perbankan, fintech, asuransi, dan lainnya), pengenalan karakter pada smartphone (menggunakan kamera), dan pemindaian dokumen. Fungsi OCR adalah untuk mempercepat proses verifikasi data, mengurangi human error, dan meningkatkan efisiensi dalam identifikasi tulisan. Namun, teknologi OCR memiliki kekurangan, seperti ada masalah keamanan yang muncul dalam penggunaannya. OCR dapat digunakan untuk membaca informasi pribadi yang jika jatuh ke tangan yang salah dapat digunakan untuk tujuan yang tidak baik, seperti pencurian identitas atau penipuan menggunakan identitas tersebut.
Oleh karena itu, Liveness Detection digunakan sebagai cara untuk memastikan bahwa pengguna merupakan pengguna yang sesungguhnya dan bukan foto atau rekaman video. Liveness Detection menggunakan algoritma yang dapat mendeteksi gerakan atau tindakan autentik manusia, seperti merespon dengan senyum, menggerakkan kepala, atau mengedipkan mata.
Kombinasi antara OCR dan Liveness Detection akan membantu meningkatkan keamanan dalam proses pengenalan tulisan dan wajah. Dengan menggunakan kedua teknologi ini, informasi pribadi dapat terlindungi dengan keamanan yang lebih baik. Namun, meskipun kedua teknologi ini sangat berguna, teknologi-teknologi ini juga memiliki keterbatasan.
OCR dapat mengalami kesulitan dalam membaca tulisan yang tercetak dalam foto yang kabur serta dalam beberapa kasus penggunaan font yang tidak biasa juga dapat mengurangi kemampuan OCR bekerja. Sementara Liveness Detection dapat mengalami kesulitan dalam mendeteksi tindakan autentik jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung, seperti pencahayaan yang kurang atau terlalu terang, swafoto yang kabur, dan posisi saat swafoto yang tidak pas.
Manfaat e-KYC
- Hemat waktu
E-KYC memungkinkan pemrosesan yang lebih cepat untuk pendaftaran calon pengguna. Proses e-KYC dapat diselesaikan dalam beberapa menit hingga jam karena sudah terhubung dengan data milik Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil). Untuk KYC tradisional, prosesnya dapat menghabiskan waktu sehari hingga beberapa hari karena data harus dicocokkan secara manual.
- Hemat biaya
E-KYC menghilangkan kebutuhan untuk verifikasi dokumen secara fisik yang mengeluarkan biaya-biaya tambahan untuk menyiapkan dan mencetak persyaratan dokumen pribadi tersebut.
- Pengalaman pelanggan yang lebih baik
E-KYC meningkatkan kemudahan pengguna karena pendaftaran dan verifikasi dapat dilakukan dari mana saja dan tidak perlu datang secara fisik ke kantor terkait.
- Keamanan data yang terjaga
E-KYC menggunakan hak akses dari Kementerian Dalam Negeri melalui Ditjen Dukcapil yang diberikan kepada lembaga yang sudah diizinkan untuk memverifikasi identitas pengguna. Hak akses ini tidak memberikan data kependudukan dan hanya memberikan notifikasi “Sesuai” atau “Tidak Sesuai” saat melakukan verifikasi sehingga keamanan data pengguna terjaga dengan baik.
- Menghindari Tindak Pidana
E-KYC dapat mencegah tindak pidana seperti pencucian uang dan pemalsuan data yang dapat merugikan orang lain. Hal ini dapat dilakukan karena tahapan OCR pada e-KYC yang mengharuskan pengguna untuk mengunggah kartu identitas asli yang datanya dicocokkan dengan database Ditjen Dukcapil. Selain itu, pengguna juga harus melakukan Liveness Detection melalui pengambilan swafoto untuk memastikan bahwa pengguna dan kartu identitas yang diunggah sama.
Tantangan Penerapan e-KYC
Dari segala kemudahan yang ditawarkan, penerapan e-KYC tidak luput dari tantangan dan kelemahan yang dihadapi, seperti:
- Tidak terjangkau semua kalangan
Banyak masyarakat yang masih belum memiliki gawai dan ketersediaan akses internet yang belum tersebar di seluruh wilayah Indonesia menjadi tantangan utama bagi penerapan e-KYC di Indonesia.
- Risiko keamanan siber
Risiko pencurian data siber tidak pernah luput dari sektor sistem dan teknologi informasi. E-KYC yang melibatkan transfer informasi penting dari pengguna juga turut rentan terhadap serangan siber.
Penggunaan e-KYC di Berbagai Sektor
E-KYC saat ini tidak terbatas dalam bidang keuangan saja, tetapi juga telah digunakan di sektor lain untuk memverifikasi identitas pengguna. Berikut adalah beberapa contoh penggunaan e-KYC di berbagai sektor:
- Perbankan
E-KYC digunakan di sektor perbankan untuk memverifikasi identitas nasabah untuk membuka rekening bank, memperoleh kartu kredit, dan layanan perbankan lainnya. - Pasar Modal
E-KYC digunakan dalam industri pasar modal untuk memverifikasi identitas investor. - Perdagangan Elektronik
E-KYC digunakan dalam perdagangan elektronik untuk memverifikasi identitas pembeli dan penjual selama transaksi elektronik agar menghindari penipuan. - Layanan Pemerintah
E-KYC juga digunakan oleh lembaga pemerintah dan non pemerintah untuk memverifikasi identitas warga negara untuk berbagai layanan seperti permohonan paspor, pengisian pajak, pendaftaran sertifikat elektronik, dan layanan pemerintah lainnya.




Tinggalkan Balasan